Suara Petambak Udang Bumi Dipasena: Harga Jual Rendah, Biaya Produksi Naik

Sejumlah petambak udang di Bumi Dipasena, Kecamatan Rawajitu Timur, Tulangbawang, resah.

Suara Petambak Udang Bumi Dipasena: Harga Jual Rendah, Biaya Produksi Naik
Istimewa
Kondisi salah satu tambak udang di Bumi Dipasena, Tulangbawang. 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG ENDRA ZULKARNAIN

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, RAWAJITU - Sejumlah petambak udang di Bumi Dipasena, Kecamatan Rawajitu Timur, Tulangbawang, resah. Ini lantaran harga udang yang rendah di pasaran, sementara biaya produksi malah meningkat.

"Kondisi budidaya udang saat ini besar pasak daripada tiang. Harga jual rendah, tapi biaya produksinya naik," tutur Ari Suharso, petambak udang Dipasena, Minggu (3/6/2018).

Ari mengungkapkan, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar dua bulan ini. Bukan hanya di Lampung dan Indonesia, menurut dia, kondisi serupa terjadi di negara lainnya di Benua Asia.

"Se-Asia sih, bukan cuma di Dipasena. Sudah sekitar dua bulan ini," kata Ari.

"Ini akibat harga pakan naik, BBM (bahan bakar minyak) naik, dan bahan produksi lainnya naik, karena nilai tukar rupiah yang semakin lemah," imbuhnya.

Akibat berikutnya, banyak petambak udang tak berani berspekulasi menabur benur udang dengan kepadatan tinggi. Ini untuk mengantisipasi kerugian lebih besar.

Menurut Ari, petambak udang Dipasena hanya berani menebar benur dengan kepadatan rendah.

Suryadi, Biro Budidaya Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) Lampung, mengungkapkan, kondisi semacam ini sering menimpa para petambak. Namun, menurut dia, kondisi tersebut biasanya datang tidak bersamaan seperti sekarang.

"Biasanya kalau harga pakan naik, harga udang tidak terpengaruh. Tapi kali ini cukup berat, karena tantangannya bersamaan. Harga udang jatuh, sementara harga pakan naik," kata Suryadi.

Ia menambahkan, langkanya BBM jenis solar serta listrik yang tak kunjung masuk ke Bumi Dipasena turut memperburuk kondisi.

"Udang ini komoditas ekspor, tapi hampir semua sarana operasional produksinya bergantung pada barang impor," tandas Suryadi.

Penulis: Endra Zulkarnain
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help