Tribun Bandar Lampung

Terdakwa Pencabulan Anak Dituntut 14 Tahun Penjara

Ade Aryanto (22), terdakwa pencabulan anak, dituntut hukuman 14 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan penjara.

Terdakwa Pencabulan Anak Dituntut 14 Tahun Penjara
Tribunlampung.co.id/Dodi Kurniawan
Ilustrasi pencabulan 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Ade Aryanto (22), terdakwa pencabulan anak, dituntut hukuman 14 tahun penjara. Ia dinilai terbukti melanggar pasal 82 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Meminta majelis hakim mengadili terdakwa Ade Aryanto dengan hukuman 14 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan penjara," kata Jaksa Penuntut Umum Yetty Munira dalam sidang tertutup di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Kamis (11/4/2019).

Menanggapi tuntutan itu, Tarmizi selaku kuasa hukum terdakwa, menyatakan keberatan.

"Kami akan melakukan pembelaan satu mingu ke depan. Harapan kami, majelis hakim melihat dari sisi kemanusiaan," ujarnya.

Menurut Tarmizi, terdakwa Ade juga merupakan korban tindak pencabulan.

"Dia pernah diperlakukan seperti itu saat umur 6 tahunan," katanya.

Dalam dakwaan, JPU Yetty mengungkapkan, perbuatan terdakwa Ade bermula saat ia melintas di sebuah lapangan pada 3 Januari 2019. Ia melihat beberapa anak laki-laki sedang bermain sepakbola.

"Terdakwa mendekati anak-anak itu dan mengajak salah satu anak untuk mengambil buah rambutan. Terdakwa menjanjikan untuk mengambil rambutan pada 4 Januari 2019," papar JPU Yetty.

Esok harinya, lanjut JPU Yetty, terdakwa Ade mengajak empat anak mengambil rambutan. Tiba di lokasi, Ade meminta keempatnya berpencar.

Namun, Ade secara khusus meminta satu dari empat anak tersebut agar mengikutinya. Setelah tiba di lokasi, terdakwa Ade mencabuli anak berusia 8 tahun itu.

Aksi Ade saat itu tepergok warga yang melintas. Ade kemudian dibekuk aparat polisi pada malam harinya, berdasarkan laporan keluarga korban.

Catatan kepolisian, Ade merupakan residivis kategori predator anak. Ia pernah berbuat hal serupa pada 2015.

Kepada polisi, Ade mengaku khilaf setelah mendengar bisikan gaib. Ia mengaku tidak mengenal korban.

"Ada bisikan yang nyuruh saya. (Bisikan) setan kali," tuturnya seraya sesenggukan menahan tangis, saat dihadirkan polisi dalam ekspose kasus, Januari 2019.

Pihak kepolisian telah mengimbau para orangtua agar aktif mengawasi anak-anaknya. Itu untuk mencegah terjadinya kasus serupa. Orangtua harus mengajarkan anak agar tidak langsung percaya dengan orang yang baru dikenal. (Tribunlampung.co.id/Eka Ahmad Sholichin)

Penulis: hanif mustafa
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved