Komunitas Lampung Mendengar Gelar Parenting Anak Tuna Rungu Setiap Tiga Bulan Sekali

Komunitas Lampung Mendengar Gelar Parenting Anak Tuna Rungu Setiap Tiga Bulan Sekali

Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Dini
Komunitas Lampung Mendengar 

Laporan Reporter Tribun Lampung Jelita Dini Kinanti

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Berbagi informasi dan edukasi mengenai anak tuna rungu menjadi misi dibentuknya Komunitas Lampung Mendengar. Misi itu dijalankan melalu kegiatan parenting dan seminar/workshop

Sekretaris Komunitas Lampung Mendengar Novi Srawaili mengatakan, parenting dilakukan setiap tiga bulan sekali. Dalam parenting sesama orangtua anak tuna rungu akan berbagi pengalaman. Seperti, pengalaman memilihkan sekolah untuk anak tuna rungu.

"Informasi mengenai sekolah anak tuna rungu masih minim. Sehingga banyak orangtua yang berpendapat yang penting anak tuna rungunya disekolahkan. Mereka tidak tahu kalau memilihkan sekolah yang tepat sangat penting. Ditambah lagi, sekolah untuk anak disabilitas masih minim," kata Novi

Selain itu dalam parenting juga berbagi informasi mengenai alat bantu dengar dan dimana membelinya. Masih banyak orangtua yang belum tahu mengenai alat bantu dengar. Sehingga ada orangtua yang mengajarkan anakny bahasa isyarat atau bahasa bibir

Padahal alat itu penting untuk membantu anak mendengar suara yang ada disekitarnya. Kalau anak tidak bisa mendengar, otomatis anak juga tidak bisa bicara. Setelah anak bisa mendengar, anak harus menjalani habilitasi atau terapi bicara.

Terkait alat bantu dengar dan terapi bicara, Komunitas Lampung Mendengar mengadakan kegiatan seminar/workshop yang membahas keduanya. Jadwal rutin diadakanya sebenarnya 6 bulan sekali.

Tetapi khusus seminar terkadang dilakukannya melebihi jadwal jika ada sponsor yang ingin promosi alat bantu dengar dalam seminar. Bersamaan dengan promosi itu mereka juga mendatangkan narsumber yang mengedukasi mengenai alat bantu dengar dan terapi bicara

"Terapi bicara harus dilakukan oleh terapis. Tapi sayangnya jumlah terapis untuk terapi bicara di Lampung masih kurang. Sehingga ada anak tuna rungu yang tidak bisa terapi bicara rutin dan terkadang ada satu terapis melakukan terapi bicara ke dua anak. Padahal seharusnya satu terapi satu anak," ujar Novi

Untuk itu Komunitas Lampung Mendengar melakukan edukasi ke Gubernur, Dinas Pendidikan, dan Dinas Sosial untuk menambah terapis. Audiensi juga sekaligus meminta pendidikan, fasilitas umum, dan fasilitas kesehatan untuk disabilitas lebih diperhatikan.

(Tribunlampung.co.id/Jelita Dini Kinanti)

Tags
tuna rungu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved