Makam Bung Karno Magnet Ekonomi Blitar
Industri pariwisata di Kota Blitar, Jawa Timur, tak hanya memacu berkembangnya industri kreatif yang berbasis kerajinan rakyat.
Tidak hanya itu, bersamaan dengan tumbuhnya pasar wisata, terbuka peluang pasar bagi produk kerajinan yang dihasilkan perajin di Kota Blitar. Misalnya, kerajinan kayu dari Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul, yang ditekuni lebih dari 170 perajin dengan jumlah pekerja 426 orang.
Tidak ketinggalan, usaha restoran, hotel, biro perjalanan wisata, hingga pengelola kamar mandi umum. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Blitar, ada 19 hotel dan 20 restoran dengan jumlah pekerja mencapai ratusan orang. Ditambah lagi, warung-warung pedagang kaki lima yang tumbuh subur bak jamur pada musim hujan.
Belakangan, sektor pariwisata Kota Blitar menjadi sumber nafkah bagi para seniman tradisional, seperti jaran kepang, macapatan, dan wayang kulit. Pelaku kesenian turun-temurun yang dulu hampir mati, bangkit setelah mendapat panggung di pelataran parkir Makam Bung Karno.
Melihat luasnya tautan industri pariwisata, tidak berlebihan jika dikatakan sebagai penggerak roda ekonomi bagi lebih dari 60 persen penduduk di Kota Blitar sekitar 200.000 jiwa.
Peran lain industri pariwisata yang tidak bisa diremehkan adalah menjadi keran bagi masuknya uang dan sumber pendapatan asli daerah (PAD). PAD tersebut bisa dipakai untuk menopang pembangunan dan membiayai jalannya roda pemerintahan. Dengan asumsi setiap wisatawan membelanjakan Rp 10.000, sedikitnya ada Rp 10 miliar uang beredar di Kota Blitar setiap tahun. Benar-benar mesin uang yang menggiurkan. (*)