Curiga Putrinya Meninggal Tak Wajar, Ayah Lapor Polisi
Theofilus Bifel, pegawai negeri sipil (PNS) di kantor BKKBN Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU)
TRIBUNLAMPUNG.co.id - Theofilus Bifel, pegawai negeri sipil (PNS) di kantor BKKBN Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), melapor ke Poles Kupang Kota dan Polres TTU, lantaran ada kejanggalan atas kematian putrinya, Fransiska Bifel (20) yang tinggal indekos di jalan Bajawa, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang pada 23 Desember 2013 lalu.
Theofilus yang ditemui sejumlah wartawan ketika menggelar ritual 40 hari kematian putri pertama dari tiga bersaudara itu di kediamannya, Jumat (31/1/2014), mengatakan dirinya melaporkan ke polisi lantaran anaknya itu diduga kuat meninggal akibat dibunuh.
"Saya ditelepon pertama kali oleh seorang pria yang sampai saat ini identitasnya belum diketahui dengan menggunakan nomor telepon baru pada 23 Desember 2013 lalu, yang meminta saya untuk segera ke Kupang, karena menurutnya anak saya lagi sakit dan sementara dirawat di rumah sakit kota Kupang," kata Theofilus.
Lalu, Theofilus bersama istri dan keluarganya pun berangkat ke Kupang. Namun dalam perjalanan, Theofilus ditelepon adiknya bahwa Fransiska telah meninggal dan jenasahnya dibawa ke Rumah Sakit WZ Yohanes.
Mendengar kabar tersebut Theofilus dan keluarga pun langsung menangis. "Saya merasa bingung karena anak saya tiba-tiba meninggal tanpa sebab yang jelas," kataTheofilus.
Anehnya, lanjut Theofilus, sampai di rumah sakit, dia dan keluarganya yang tinggal di Kupang, dilarang untuk melihat langsung jenazah putrinya itu. "Sebelum kami tiba, adik kandung saya dan beberapa saudara saya dilarang oleh petugas rumah sakit untuk melihat langsung jenazah anak saya ini," katanya.
Lalu saat Theofilus tiba di rumah sakit, dia pun lalu menerobos masuk ke ruang jenazah putrinya meski sempat dihalangi petugas. Theofilus mendapati jasad putrinya sudah dimandikan dan dipakaikan baju putih. Dia pun protes.
"Saya bertanya pada petugas rumah sakit siapa yang memandikan dan pakaikan baju mirip pengantin. Padahal harus ada persetujuan dari pihak keluarga, sementara keluarga dilarang masuk kamar jenasah. Ini sangat aneh," katanya.
Yang membuat dirinya yakin anaknya itu meninggal dibunuh karena di beberapa bagian anggota tubuh putrinya itu terdapat luka lebam dan bekas cekikan di leher. "Di bagian leher terdapat lubang bekas cekikan, di tangan, warna biru kehitaman, di perut dan dada terdapat luka sayatan. Kami pun lapor polisi pada pekan lalu untuk mengusut tuntas kasus ini, karena penyebab kematiannya belum jelas," kata Theofilus.
Dia berharap polisi bisa memeriksa saksi-saksi di kos putrinya, termasuk sang pemilik kos. "Tempat kosnya itu ada lima kamar, gabung dengan rumah pemilik kos dan dipagar keliling. Pada saat kejadian, empat penghuni kamar kos lainnya sedang libur sehingga hanya anak saya sendirian di kamar kos itu," pungkasnya.
Terkait hal itu, Wakil Kepala Polres Kupang Kota, Komisaris Yulian Perdana yang dihubungi Kompas.com via telepon selulernya, tidak mengangkatnya. Begitupun pesan singkat yang dikirim belum juga dibalasnya.