Piala Dunia 2014
Aroma dan Langkah Bung Karno Terekam di Brasil
Aroma Indonesia hampir selalu menghiasi gelaran akbar putaran final Piala Dunia. Empat tahun lalu misalnya,
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BRASILIA - Aroma Indonesia hampir selalu menghiasi gelaran akbar putaran final Piala Dunia. Empat tahun lalu misalnya, kala pesta sepak bola se-dunia dihelat di Afrika Selatan, Tribun menyaksikan sendiri 'peradaban' tanah air ada di sana.
Kala itu, selain baju batik, beberapa barang-barang berharga di rumah mendiang Nelson Mandela di Johannesburg, ternyata berasal dari hadiah atau persembahan Indonesia, mulai dari mantan presiden (alm) Soeharto, sampai beberapa sumbangan masyarakat Indonesia yang seide dengan Madiba.
Puncaknya ada di sebuah kawasan bernama Cape Town. Di kota paling ujung selatan dari Afrika Selatan tersebut, Tribun menyaksikan sendiri peradaban asli Indonesia di Kampung Macassar.
Kini, setelah empat tahun berselang, kembali jejak Indonesia terekam di negara yang kini menjadi tuan rumah putaran final Piala Dunia 2014, Brasil.
Memang tak sefenomenal atau seramai di Afrika Selatan, namun tetap saja membuat saya terkesima, takjub, bangga sekaligus merinding. Bagaimana tidak, saya melihat sendiri sosok mantan presiden Indonesia, Soekarno, menggenggam trofi Piala Dunia yang berhasil direnggut Brasil untuk kali pertama.
Semua itu terekam dengan jelas di tempat paling bersejarah di Brasilia, yakni JK Memorial Museum. JK adalah singkatan dari nama Juscelino Kubitschek, Presiden terdahulu Brasil yang pada 1961 memindah ibukota dari Rio de Janeiro ke tengah-tengah Brasil. Saat pembangunan direncanakan, sebagian besar Brasilia masih berbentuk sabana.
Saya mengunjungi museum yang berada di Jalan Eixo Monumental, Brasilia itu, Rabu (2/7) lalu. Lokasi museum masih di jalan yang sama dengan Estadio Mane Garrincha, lokasi pertandingan Argentina versus Belgia.
Museum ini sudah menjadi satu ikon Distrito Federal Brasilia. Dari kejauhan, warga yang melintas Eixo Monumental bisa melihat simbol JK Memoria Museum, semacam tugu dengan patung sang presiden melambai menghadap timur.
Bentuk tugu agak unik yakni tiang dengan seperti huruf 'C' di puncaknya. Di dalam huruf 'C' itu, berdiri patung JK. Sementara bagunan utama museum berada di bawah permukaan tanah. Di atap bangunan itulah berdiri tugu serta sang patung presiden.
Saya memasuki bangunan utama museum dari sisi timur. Di kanan kiri pintu masuk, terdapat kolam seukuran setengah lapangan voli. Di pintu masuk saya harus membayar karcis seharga 10 reais (BRL) atau sekitar Rp 50 ribu.
Saat saya membayar, sekelompok turis masuk keluar dari pintu lain. penjaga loket akhirnya menjelaskan, mereka yang sudah membayar boleh keluar masuk museum untuk sekadar berfoto di halaman. "Silakan nanti keluar masuk setelah sudah membayar, tak perlu lagi membayar karcis masuk," kata staf perempuan penjaga loket.
Persis setelah loket masuk, masih di lorong yang sama, saya melihat foto-foto JK dan sejumlah tokoh dunia di eranya, yang paling kentara adalah Presiden AS John F Kennedy yang berkuasa di tahun 1996-1963.
Selain foto-foto tokoh penting di pergaulan internasional, ada juga foto-foto JK dan keluarga. Sejak awal saya sudah penasaran, adakah Bung Karno di museum ini? Karena JK sebagai presiden ke-21 Brasil berkuasa di periode 1956-1961, di saat yang sama dunia juga mengenal Soekarno, proklamator negara baru dari Asia.
Saya meneruskan saja masuk melewati pintu kaca di ujung lorong masuk. Di sana nuansa Piala Dunia lebih kentara. Itu tak lain karena foto-foto perayaan Brasil saat pertama merebut juara Piala Dunia sepak bola pada tahun 1958.
Dalam foto tampak JK menyambut Kapten Brasil saat itu, Hilderaldo Luiz Bellini, yang dikenal sebagai bek tengah paling kokoh sepanjang sejarah sepak bola Brasil.