HPN 2015

Catat, Bahasa Indonesia Lahir dari Pulau Penyengat!

Diperlukan kampanye secara terstruktur dan massif untuk memperkenalkan kepada dunia tentang keberadaan dan peran Pulau Penyengat

Penulis: Andi Asmadi | Editor: Andi Asmadi

BAHASA Indonesia secara tegas disebutkan sebagai Bahasa Negara dalam UUD 1945. Dalam Sumpah Pemuda 1928, juga disebutkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan. Lalu, dari mana Bahasa Indonesia berasal? Kita semua sudah tahu, dari Bahasa Melayu.

Bahasa Melayu sudah jauh-jauh hari "diusulkan" oleh Ki Hajar Dewantara untuk menjadi Bahasa Persatuan di wilayah Hindia Belanda. Itu terjadi dalam Kongres Guru di Den Haag, Belanda, tahun 1916.

Dalam Prakovensi Bahasa dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2015 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 12-13 Desember 2014 di Batam, Gubernur Kepri HM Sani pun menegaskan hal yang sama.

"Ki Hajar Dewantara adalah sosok penting karena dia adalah tokoh pertama yang mengusulkan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia," katanya.

Lalu, dari mana Bahasa Melayu itu tumbuh dan berkembang? Maaf, belum banyak yang tahu: dari Bahasa Melayu Riau Kepulauan, atau lebih spesifik lagi, dari Bahasa Melayu Penyengat.

Penyengat yang dimaksud adalah nama sebuah pulau kecil di dekat Tanjung Pinang, ibu kota Kepulauan Riau. Dari pulau yang hanya berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter inilah, Bahasa Melayu berkembang menjadi lingua franca (bahasa pengantar, bahasa pergaulan) di kawasan ASEAN.

Lalu, bagaimana bisa Bahasa Melayu ini tumbuh dan berkembang dengan baik? Lagi-lagi, belum banyak yang tahu: berkat peran Raja Ali Haji, Yang Dipertuan Muda Riau VIII, pencipta Gurindam 12 dan juga penyusun sejumlah literatur Bahasa Melayu, yang belakangan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional (2004).

PERAN PULAU PENYENGAT
Ch A van Ophuijsen, guru besar bahasa, pernah datang ke Pulau Penyengat (Kantor Berita Antara, 1 September 2014). Dari penelitiannya, dia akhirnya berkesimpulan, Bahasa Melayu yang baik itu dari Pulau Penyengat, sebuah pulau yang namanya diambil dari nama hewan sebangsa serangga yang mempunyai sengat.

Awalnya, Bahasa Melayu hanya dipercakapkan secara terbatas di kalangan penduduk di Pulau Penyengat dan Lingga. Karena posisinya yang berada di jalur perdagangan Selat Malaka, dan karena penduduknya banyak yang berdagang, penyebaran bahasa Melayu kemudian meluas.

Dari Penyengat ke kawasan Selat Malaka, Bahasa Melayu kemudian berkembang di kawasan Nusantara, pantai timur Sumatera, hingga ke Vietnam dan kawasan ASEAN lainnya.

Maka, dengan peran yang sangat besar bagi lahirnya Bahasa Indonesia, selayaknyalah Pulau Penyengat mendapat pehatian khusus. Benar, Gubernur Kepri, HM Sani, pada 19 Agustus 2013 sudah meletakkan batu pertama pembangunan Monumen Bahasa Melayu di areal dalam bekas Benteng Kursi.

Tapi, monumen saja tidaklah cukup. Pulau Penyengat, dengan segala isinya, layak mendapat pengakuan dan perhatian internasional.

PERAN RAJA ALI HAJI
Nama lengkapnya, Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad. Ia lebih dikenal dengan nama Raja Ali Haji. Lahir di Selangor 1808, meninggal di Pulau Penyengat, 1873. Lalu, apakah dia berdarah Indonesia? Jelas. Dia adalah keturunan Raja Bugis yang merantau ke Malaysia hingga ke Johor.

Dari tangan Raja Ali Haji lahir karya sastra Gurindam 12 yang melegenda itu. Namun, dia tak semata menghasilkan Gurindam 12. Dalam wikipedia disebutkan, ia merupakan pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa, yang kemudian menjadi buku standar Bahasa Melayu.

Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia.

Ia juga menulis buku Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama, merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara.

Peran Raja Ali Haji juga dipaparkan oleh Abdul Malik, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), sebagaimana dirilis Kantor Berita Antara, 1 September 2014.

Malik menyebut peran terbesar Raja Ali Haji adalah bersama rekan-rekannya ia melakukan kodifikasi atau pembinaan Bahasa Melayu. Lahirlah buku Bustanul Katibin yang berisi tentang tata bahasa Melayu, Kitab Penyatuan Bahasa atau kamus.

Ada pula Haji Ibrahim yang menulis buku tentang asal usul kata (etimologi). Raja Ali Kelana dengan karya berupa buku tentang bentuk kata (morfologi) dan makna kata (semantik). Serta karangan Abu Muhammad Adnan tentang pengajaran bahasa.

Bahkan, pemerintah Belanda juga mengirim pakar Bahasa Belanda, Von de Wall, ke Pulau Penyengat menjumpai Raja Ali Haji untuk membuat kamus Bahasa Belanda-Melayu dan Melayu Belanda serta tata bahasanya.

Dan, jika dicermati lebih dalam, Gurindam 12 karya Raja Ali Haji sebenarnya sudah mendeklarasikan bahasa sebagai simbol pemersatu.

Dalam Gurindam V, antara lain tertuang kalimat seperti berikut: Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.

Jika dikaji lebih jauh, bait ini memberi makna filosofis bahwa Bahasa Melayu merupakan bahasa persatuan yang melekatkan suatu bangsa. Terbukti, kelak Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan, menyatukan Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

TIGA GAGASAN
Dari beberapa paparan di atas, ada beberapa kesimpulan, yang sebenarnya juga gagasan, dapat ditorehkan dalam tulisan ini.

PERTAMA, jika kita semua bersepakat bahwa Bahasa Indonesia asalnya dari Bahasa Melayu, dan Bahasa Melayu yang dimaksud adalah Bahasa Melayu Riau yang tumbuh dan berkembang di Pulau Penyengat, maka selayaknya fakta sejarah ini diperjelas dan dipertegas dalam pengajaran di bangku sekolah, sejak SD hingga SMA.

Karena itu, dalam setiap buku pelajaran tentang Bahasa Indonesia di segala level pendidikan, patut dan layak dicantumkan "mukaddimah" yang menjelaskan latar belakang sejarah hadirnya Bahasa Indonesia, dengan mengacu pada titik lahirnya Bahasa Melayu di Pulau Penyengat.

KEDUA, Pulau Penyengat perlu mendapat perhatian dan yang lebih baik dari pemerintah dan dunia. Keberadaan Monumen Bahasa Melayu di Pulau Penyengat tidaklah cukup jika mengingat peran besar pulau ini dalam hadirnya Bahasa Indonesia yang kita pergunakan sekarang ini.

Pulau Penyengat perlu dikembangkan menjadi semacam museum dunia yang akan selalu dijaga dan diperhatikan kelestariannya. Pemerintah perlu berusaha keras untuk mewujudkan Pulau Penyengat menjadi Situs Warisan Dunia dari UNESCO.

Pada 19 Oktober 1995, Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi satu di antara Situs Warisan Dunia, namun hingga sekarang tidak terdengar lagi kelanjutannya.

Karena itu, diperlukan kampanye secara terstruktur dan massif untuk memperkenalkan kepada dunia tentang keberadaan dan peran Pulau Penyengat, baik dalam lingkup ASEAN hingga dunia internasional. Kampanye ini bisa dimulai oleh Pemprov Kepulauan Riau, dan kemudian ditindaklanjuti secara nasional, melalui berbagai medium, termasuk ke media cetak, online, dan media sosial.

KETIGA, Raja Ali Haji layak untuk mendapat penghargaan yang lebih besar terkait perannya dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia. Gelar Pahlawan Nasional yang sudah dianugerahkan tidaklah secara spesifik menunjukkan perannya dalam pembinaan dan pengembangan Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.

Raja Ali Haji sudah dikenal luas melalui Gurindam 12. Namun, belum banyak yang benar-benar paham bahwa Raja Ali Haji adalah seorang ahli bahasa yang memiliki komitmen tinggi terhadap kelangsungan pembinaan dan pengembangan Bahasa Melayu. Buku-buku yang ia tulis tentang kodifikasi dan pembinaan Bahasa Melayu sangat penting dan bermanfaat.

Karena itu, Raja Ali Haji patut untuk mendapatkan gelar khusus terkait bahasa nasional yang dideklarasikan melalui keputusan resmi pemerintah. Apakah itu Bapak Bahasa Nusantara atau Bapak Bahasa Melayu atau Bapak Bahasa Indonesia. Ini layak dirumuskan dalam suatu seminar yang komprehensif. (andi asmadi/tribun lampung)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved