Kisah TKW di Singapura yang Bunuh Majikan Usai Dengar Bisikan Setan

Tuti Aeliyah menusuk majikannya empat kali menggunakan pisau sebelum mencekik gadis itu sampai mati.

Tayang:
Asiaone.com
Tuti, Seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia, di Singapura, membunuh majikannya karena mendengar bisikan setan. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia di Singapura mengaku membunuh majikannya setelah mendengar bisikan setan. TKW bernama Tuti Aeliyah tersebut dijatuhi hukuman penjara 12 tahun karena menusuk Shameera Basha.

Pembunuhan itu dilakukannya di apartemen majikannya di Tampines HDB, pada 14 November 2013.

Tuti Aeliyah menusuk majikannya empat kali menggunakan pisau sebelum mencekik gadis itu sampai mati.

Berdasarkan dokumen pengadilan, seperti yang diungkapkan dalam pemberitaan Asiaone.com, Kamis (28/5/2015), diketahui bahwa Tuti mulai bekerja untuk keluarga Shameera pada bulan April 2012.

Semuanya berjalan normal hingga beberapa bulan sebelum November 2013. Saat itu Tuti mulai bertingkah laku aneh. Dia mulai jarang makan, kehilangan berat badan, dan menolak menelpon ke rumahnya. Dia juga tidak menanggapi nasihat dan pertolongan majikannya.

Dua minggu sebelum kejadian, Tuti berkata kepada seorang pembantu rumah tangga tetangganya bahwa ia ingin mengakhiri hidupnya . Namun saat itu ia tidak menjelaskan alasannya, dan ia sering kali termenung dengan tatapan kosong.

Pada 14 November 2013 pagi, orangtua dan kakak laki-laki Shameera meninggalkan apartemen mereka. Saat itulah Tuti mengaku melihat setan di cermin. Setan itu kemudian mengatakan kepadanya bahwa jika ia membunuh Shameera maka ia dapat memiliki sebuah perusahaan di surga.

Sekitar pukul 08.00 waktu setempat, Tuti mengambil sebilah pisau dari salah satu laci di dapur, dan masuk ke dalam kamar dimana Shameera tengah tertidur pulas. Dia kemudian mengambil bantal dan coba membekap gadis itu.

Sontak hal itu membangunkan Shameera dari tidurnya, ia pun meronta memberontak dan melawan Tuti. Namun Tuti menerkamnya dan menghujamkan pisau yang ia bawa ke arah dada Shameera, gadis itu jatuh dari tempat tidur.

Tuti kemudian mengambil seragam sekolah gadis itu lalu menggunakannya untuk mencekik leher Shameera. Dia baru melepaskan cengkramannya ketika ia melihat Shameera berhenti bergerak.

Baru setelahnya Tuti meninggalkan kamar tidur dan kembali ke dapur, di mana dia minum setengah cangkir cairan pelembut kain dan memotong pergelangan tangannya menggunakan pisau.

Dia juga mencoba gantung diri menggunakan kain di dapur toilet, tetapi mengurungkannya karena terlalu menyakitkan.

Sekitar pukul 12.30, ibu Shameera yang kembali ke apartemennya melihat Tuti, yang telah mandi dan mengganti pakaiannya, berjalan keluar dari dapur. Dengan menggunakan bahasa Melayu Tuti kemudian mengaku baru saja membunuh Shameera.

Terkejut dengan cerita yang didengarnya, Shameera meninggalkan apartemennya untuk mencari pertolongan dari tetangga.

Ketika polisi tiba di apartemen mereka, ditemukan laptop milik ayah Shameera, iPhone berwarna putih, dan telepon nirkabel berwarna hitam tenggelam dalam seember air.

Polisi juga menemukan pisau sepanjang 14cm di dapur, dan sebuah kantong plastik berisikan piyama dengan noda darah, tergantung di jendela.

Berdasarkan otopsi yang dilakukan terhadap jenazah Shameera diketahui bahwa ia meninggal karena dicekik meskipun dia menderita banyak luka termasuk empat luka tusukan dan luka lainnya di seluruh tubuhnya.

Tuti pun dibawa ke Institute of Mental Health untuk menjalani pemeriksaan. Dari sana diketahui bahwa Tuti menderita depresi berat dengan gejala psikotik.

Meskipun pikirannya jernih saat membunuh Shameera namun penilaiannya secara signifikan terganggu karena sakit mentalnya.

Setelah penilaian lebih lanjut, Tuti ditemukan berada pada risiko rendah melakukan kekerasan terhadap orang lain meskipun dia sangat mungkin untuk mengambil nyawanya sendiri.

Dokumen pengadilan tidak menyebutkan bahwa ia menerima penyiksaan atau perlakuan buruk dari majikannya.

Kemarin, kuasa hukumnya, Nasser Ismail mengatakan dalam mitigasi bahwa kliennya berada di bawah tekanan karena masalah keuangan dan keinginannya untuk kembali ke Indonesia.

Tuti, yang merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara merupakan satu-satunya pencari nafkah bagi keluarganya. Orangtuanya yang sudah lanjut usia bekerja sebagai petani di kampungnya di Jawa Barat.

Setelah keguguran pada tahun 2011, Tuti, yang bekerja sebagai baby sitter selama 10 tahun di Indonesia, datang ke Singapura untuk bekerja.

Namun menurut Nasser ia mendapatkan tekanan dari ibu mertuanya yang terus menerus meminta uang kepadanya.

Tuti, lanjut Nasser, mengaku bisa melihat hantu sejak ia berusia 10 tahun, dan hantu tersebut sering mendatanginya secara berkala pada bulan Desember 2013.

Akibatnya, ia merasa takut dan kehilangan nafsu makan dan motivasi untuk bekerja.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved