Saksi Hidup Korban Bom Atom Nagasaki Kondisi Tubuhnya Mengenaskan
Dampak bom maut itu, daging di punggung, lengan, dan bahu Taniguchi tercecer. Untungnya, ia mampu melarikan diri dan bertahan hidup.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, NAGASAKI - Sumiteru Taniguchi berusia 16 tahun saat bom atom yang menghantam kota Nagasaki, Jepang membuatnya terpental dari sepeda
Ia berada 1,8 kilometer dari titik pusat bom atom itu menghujam bumi pada 9 Agustus 1945.
Dampak masif bom itu menewaskan 70 ribu orang dan enam hari setelahnya, Jepang menyerah dan perang dunia kedua berakhir.
Dampak lain dari bom maut itu, daging di punggung, lengan, dan bahu Taniguchi tercecer. Untungnya, ia mampu melarikan diri dan bertahan hidup.

Ia menghabiskan 21 bulan berbaring demi mengobati punggungnya yang terbakar, daging membusuk, serta tulang rapuh.
Kini dikutip dari Metro.co.uk, Sabtu (8/8/2015), 70 tahun telah berlalu. Tujuh dekade yang dilaluinya hingga saat ini masih meninggalkan kesedihan mendalam khususnya kondisi badan.

Pria yang kini berusia 86 tahun itu kondisi dari dada hingga perut hanya menyisakan tulang dan sedikit daging. Bahkan, area punggunnya tersisa tiga tulang rusuk saja.
Setiap pagi, istri Taniguchi memberi krim pelembab untuk mengurangi iritasi dari bekas luka tubuhnya.
Terkait kenangan masa lalu itu Taniguchi berharap tidak ada orang lain harus menderita rasa sakit dari senjata nuklir.
Dia saat ini memimpin kelompok yang selamat korban bom atom Nagasaki melawan proliferasi senjata nuklir. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/bom-atom-3_20150808_201755.jpg)