Tidak Semua Obat Bisa Disimpan

Kemenkes mengajak masyarakat agar paham bahwa obat yang perlu ia simpan adalah obat-obatan tertentu.

Editor: Reny Fitriani
shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, MANGUPURA - Hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), 30 persen masyarakat di dunia menyimpan obat untuk antisipasi kesehatan.

Bahkan, dari angka tersebut tidak sedikit juga yang menyimpan obat anti biotik.

Kepala Subdit Penggunaan Obat Rasional Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Drs Heru Sunaryo menyatakan, penyimpanan obat yang dilakukan masyarakat haruslah cermat.

Data Kemenkes menunjukkan, tidak sedikit masyarakat yang terdampak kesehatannya, akibat mengkonsumsi obat yang mereka simpan sendiri.

Oleh sebab itu, Kemenkes membuat program Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) yang diluncurkan 13 November lalu.

‎"Melalui Gema Cermat ini, Kemenkes mengajak masyarakat agar paham bahwa obat yang perlu ia simpan adalah obat-obatan tertentu. Jadi tidak semua obat bisa disimpan atau jadi apotek pribadi. Karena ada tiga macam obat yakni obat dengan kode Hijau, Biru, Merah," jelasnya usai sosialisasi Pekan Peduli Antibiotik Sedunia di Lippo Mall Sunset Road, Kuta, Badung, Bali, Sabtu (21/11/2015).

Sebagai konsumen atau pasien yang bijak, menurut Heru, mereka harusnya mengetahui kapan harus ke dokter.‎

Sebab, dengan tiga simbol bulat berwarna hijau, biru dan merah ini, maka masyarakat akan tahu betul penggunanya setelah mendatangi dokter.

Selain berdampak pada kesehatan terkecil, obat berkode merah dan berdosis besar, juga akan berdampak pada ancaman nyawa.

Sebab, lanjut Heru, obat merupakan zat kimia yang mampu merusak bagian tubuh dan apabila obat berdosis besar maka akan semakin cepat merusak kekebalan tubuh jika tidak digunakan sesuai petunjuk dokter.

Sebab, melalui dokter yang ada, maka pasien yang sakit akan diperiksa kondisi tubuh, kekebalan tubuh dan virus yang menyerang pasien.

Kalau perlu antibiotik baru diberikan, kalau tidak hindari penggunaan antibiotik.

‎"Terlebih saat ini masyarakat menggenggam informasi dunia melalui smartphone. Jadi bisa mencari gejala sakit, penyebab penyakit dan obat yang harus dikonsumsinya. Karena berdampak buruk pada kesehatan tubuh jika salah obat dan dosis, maka kita buat sosialisasi melalui media cetak, online, maupun sosialisasi secara langsung ke masyarakat. Intinya jangan simpan obat dalam, hati-hati konsumsi obat selain dari dokter, jika sakit berlanjut hubungi dokter," tandasnya.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved