Pasien DBD di RSUAM Kesulitan Dapat Darah

Namun, ia sempat mengalami kendala soal minimnya kantong darah, untuk kebutuhan anaknya yang bergolongan darah A.

Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: Ridwan Hardiansyah
TRIBUN LAMPUNG/Eka Ahmad Solichin
Pasien DBD di RSUAM, Selasa (5/1/2016). 

Laporan Reporter Tribun Lampung Eka Ahmad Solichin

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM) mencatat ada empat pasien demam berdarah dengue (DBD) selama Januari 2016. Mereka dirawat di Ruang Nuri yang merupakan ruang rawat inap penyakit menular pria.

"Untuk penderita DBD di Januari ini, biasa saja. Untuk hari ini, ada empat pasien DBD saja, dan bulan Desember 2015 lalu, juga tidak banyak, hanya antara tiga sampai empat pasien saja. Ya biasa saja kasusnya," tutur Kepala Ruang Nuri, Munani, Selasa (5/1/2016).

Salah seorang pasien DBD di Ruang Nuri, Rizki Setiawan (20), warga Dusun Jembat Besi, Desa Gunung Terang, Kalianda, Lampung Selatan (Lamsel) tampak tergolek lemas di atas kasur.

"Sudah sejak dua malam ini, anak saya dirawat di sini," tutur ibunda Rizki, Junariah, Selasa.

Awalnya, sang anak mengalami panas tinggi selama empat hari empat malam.

"Karena takut kenapa-kenapa, akhirnya saya rujuk ke RS Kalianda dan baru diberi tahu kalau positif DBD, dengan ditandai ada bintik-bintik merah banyak di badan anak saya, dan akhirnya disarankan dirujuk ke sini," terangnya.

Junariah pun menyatakan, kondisi anaknya saat ini sudah mulai membaik, setelah diberikannya perawatan dari pihak RSUDAM. Namun, ia sempat mengalami kendala soal minimnya kantong darah, untuk kebutuhan anaknya yang bergolongan darah A.

"Ada kendala soal kantong darah seperti hari ini. Sebetulnya butuh sepuluh kantong darah tapi baru dapat tujuh kantong, yakni empat kantong dari keluarga dan tiga kantong dari PMI," terangnya.

Soal darah, Junariah menerangkan, pihak RSUAM hanya memberikan solusi untuk bertanya ke pihak PMI.

"Harapannya, PMI dapat segera menyediakan bantuan darah yang kami butuhkan. Karena, itu yang saat ini paling dibutuhkan untuk membantu kesembuhan anak saya," tuturnya.

Kasubag Humas RSUAM Esti Comalaria mengatakan, pasien DBD di tahun 2016 yang dirawat masih masuk kategori sedikit.

"Jumlahnya tidak banyak karena pasien DBD sudah memakai BPJS Kesehatan. Jadi, penanganannya berjenjang mulai dari puskesmas ke RS tipe C baru ke RS tipe B. Untuk di Lampung ada dua RS tipe B, yaitu RSUAM dan RS Urip," tuturnya.

Dengan demikian, pasien DBD yang dirawat di RSUAM, sambung Esti, merupakan pasien yang sudah tahap parah, sehingga harus dirujuk ke RSUAM.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved