Pewira TNI AD Ungkap Preman Air Berkeliaran "Todong" Para Petani

Masak mau dialiri sawahnya harus bayar, memang aliran (irigasi itu punya) nenek moyangmu apa.

Tribun Lampung
Preman pungli petani di pintu air irigasi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Perwira TNI Angkatan Darat Komandan Distrik Militer (Dandim) 0424 Tanggamus Letnan Kolonel Inf Kristomei Sianturi mengungkap adanya dugaan peran preman air pada irigasi pertanian. Baik itu irigasi di wilayah Tanggamus maupun Pringsewu.

Menurut dia, preman air ini merupakan orang yang berada di pintu saluran air irigasi yang meminta sejumlah uang kepada petani. Apabila petani menginginkan lahan sawahnya dialiri air dari irigasi tersebut maka si petani diharuskan membayar sejumlah uang terlebih dahulu.

Oleh karena itulah, Kristomei mengaku akan tegas menangani bila menemukan preman air ini. Mengingat, kata dia, saat ini TNI juga memiliki tugas menjaga ketahanan pangan nasional.

"Jangan sampai ada preman air, kalau ada preman air tangkap, serahkan (ke petugas). Masak mau dialiri sawahnya harus bayar, memang aliran (irigasi itu punya) nenek moyangmu apa, kan gitu," ujar Kristomei kepada Tribun, Rabu (20/1).

Saat ditanya, apakah indikasi preman air ini ada di Kecamatan Pagelaran yang sampai saat ini irigasinya belum teraliri air, Kristomei memastikan bila preman air ini ada di seluruh wilayah, baik itu Pringsewu maupun Tanggamus. Jadi, menurut dia, seluruh pintu air itu ada preman airnya.

Terkait permasalahan air seperti yang ada di Pagelaran, Kristomei mengaku akan mencari solusinya supaya irigasi tersebut teraliri. "Makanya akan kami cek lapangan terlebih dahulu," tukasnya.

Dia menyatakan, permasalahan tersebut juga akan dilaporkannya ke pusat. "Kalau memang harus dibenahi," tuturnya.

Kepala Pekon Pagelaran, Kecamatan Pagelaran Marom mengatakan, bila tidak mengalirnya irigasi di Kecamatan Pagelaran ini karena memang airnya yang tidak ada. Sebagai ketua ili-ili Kecamatan Pagelaran, dia menyatakan bila sumber air dari Banjar Agung, Tanggamus memang kecil.

"Saya kemarin sama Dirjen sama Dandim dan Kepala Dinas Pertanian ke sana. Memang tidak ada air, airnya kecil," ujar Marom.

Selain kecil, tambah dia, pada bagian atas (hulu ) itu sekarang banyak kolam. Kalaupun airnya kecil, menurut dia, salah satunya karena airnya lari ke kolam. "Kalau airnya agak besar, bisa sampai ke sini (hilir)," tukasnya.

Selain airnya kecil, menurut Marom, irigasi di Pagelaran telah mengalami sedimentasi atau pengendapan. Menurut dia, sedimentasi lumpur yang mengendap itu sampai setebal 50 centimeter. Biasanya, tambah Marom, Januari seperti saat ini petani di Kecamatan Pagelaran sudah selesai tanam.

Namun, kali ini petani masih sibuk akan menanam padi. Bahkan ada yang masih kesulitan pasokan air. Padahal dalam kondisi normal, irigasi tersebut bisa mengaliri hampir seluruh sawah yang ada di Kecamatan Pagelaran. Diungkap Marom, sawah di Kecamatan Pagelaran mencapai 2.225 hektare.

Kapolres Akan Cek Lapangan
Kepala Kepolisian Resor Tanggamus Ajun Komisaris Besar Ahmad Mamora mengaku akan mengecek di lapangan terlebih dahulu terkait adanya informasi preman air. "Informasi ini kami dalami dulu, kita pulbaket (kumpulkan bahan dan keterangan) dulu," ujarnya.

Menurut dia, penindakan tegas itu apabila sudah ditemukan kepastian pelanggarannya. Kecuali, lanjut dia, bila memang sudah ada laporan polisi. Kalau baru sebatas informasi, menurut dia, mesti dilakukan penyelidikan terlebih dahulu.

Semestinya, ujar Kapolres, persoalan air ini dapat diselesaikan di tingkat Unsur Pimpinan Kecamatan (Uspika). Oleh karena itulah, dia mengaku akan meminta kepada kepala kepolisian sektor untuk mengeceknya di lapangan.
"Kalau menyangkut ada pidana bisa ditindak, kalau ada masalah rebutan air kan bisa dimusyawarahkan untuk penyelesaiannya," tukasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved