Tinggal Sebatang Kara di Gubuk Reyot, Nenek 70 Tahun Ini Makan Nasi Basi Setiap Hari
Mbok Paini, begitu warga sedesanya menyapa, sudah sekitar 12 tahun hidup sebatang kara, dan tinggal di gubuk reyot yang sungguh tidak layak huni.
Itu juga karena belas kasihan tetangga, yang tidak tega melihat gubuk Paini gelap gulita, manakala malam tiba.
Mbok Paini menjelaskan, saat hujan deras turun, dia hanya pasrah dan duduk di ranjang bambu.
Itu karena dirinya khawatir gubuknya roboh. Itu pula sebab, dia meletakkan ranjang bambunya tak jauh dari pintu depan gubuknya.
“Ini untuk berjaga-jaga kalau ada tanda-tanda mau roboh, saya bisa langsung berlari keluar rumah. Kalau hujan turun, saya memang tidak berani tidur, takut rumahnya roboh, apalagi di sini banyak yang bocor,” keluh Mbok Paini.
Di teras gubuknya, setumpuk genting yang dia tata menjadi dapur berbahan bakar kayu. Itu merupakan tempat dia memasak dan merebus air.
Sedangkan untuk mandi ataupun buang hajat, serta mencuci, Paini menumpang di sumur milik tetangga.
Mbok Paini sebenarnya memiliki seorang anak, hasil pernikahannya dengan sang suami yang sudah lama meninggal.
Anak semata wayangnya yang bekerja sebagai tukang becak itu kini tinggal di Dusun sebelah bersama anak istrinya.
Kondisinya yang juga serba kekurangan, membuat anaknya juga tidak mampu berbuat banyak terhadap Paini, ibunya.
"Setiap bulan saya diberi anak saya uang Rp 20.000. Tapi mana cukup untuk biaya hidup sebulan,” ungkap Paini, getir.
Ketua RT setempat, Gatot Sularko menuturkan, Mbok Paini sebenarnya pernah diajak anaknya tinggal di rumahnya, tapi dia tidak kerasan dan memilih kembali ke gubuknya itu.
Gatot berharap, ada perhatian dari pemerintah daerah kepada Mbok Paini.
Pasalnya sejauh ini, nenek malang itu sama sekali belum tersentuh bantuan apapun.
"Hanya setiap tiga bulan sekali dia mendapat bantuan beras untuk warga miskin (raskin) sebanyak 15 kilogram,” kata Gatot.
Gatot menjelaskan, sebenarnya pemerintah pernah sempat akan melakukan bedah rumah pada kediaman Paini. Namun karena tanahnya bukan milik Paini, akhirnya bedah rumah itupun batal dilakukan.
“Sampai sekarang belum ada solusi lain,” kata Gatot yang juga tetangga Mbok Paini.