Normalkah Anak Punya Teman Khayalan?
Teman khayalan dapat menjadi sarana anak untuk mengungkapkan kekesalan yang ia rasakan.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Anak usia 3 hingga 5 tahun sangat sering mengubah segala sesuatu menjadi teman khayalan. Mulai dari binatang hingga benda mati dapat menjadi lawan bicaranya. Lalu, apakah kondisi di mana anak punya teman khayalan ini normal? Apakah hal ini menunjukkan adanya gangguan terhadap anak?
Ternyata, ada beberapa alasan mengapa anak punya teman khayalan. Salah satunya adalah teman khayalan membuat mereka mampu melakukan kontrol terhadap teman-teman mereka. Ia bisa mengatur apapun yang ia mau. Sementara pada kehidupan nyata, ia akan mengalami konflik seperti berebut mainan.
Selain itu, teman khayalan dapat menjadi sarana anak untuk mengungkapkan kekesalan yang ia rasakan. Teman khayalan akan menjadi sarana untuk mengekspresikan emosinya. Teman khayalan juga memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak lo, Mam. Dengan adanya teman khayalan anak akan merasa ada seseorang yang siap menemaninya selalu.
Ternyata, ada banyak manfaat yang didapatkan anak ketika ia punya teman khayalan. Beberapa orangtua mungkin khawatir bahwa teman khayalan dapat membuat anak tidak mau bersosialisasi di kehidupan nyata. Namun, beberapa penelitian menemukan tidak ada dampak yang terjadi jika anak memiliki teman khayalan. Justru, imajinasi akan membuat anak memiliki imajinasi yang aktif dan kreatif serta kosakata yang kaya.
Ketika anak punya teman khayalan, Mama juga perlu mengajaknya bertemu dengan banyak orang. Apa yang ia lakukan bersama teman khayalan akan membantunya punya keterampilan sosial yang baik. Jangan lupa pantau terus perilakunya agar memahami apakah perilaku tersebut sudah baik atau tidak jika dilakukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/teman-khayalan_20160528_141039.jpg)