Usia 14 Tahun Sudah Tak Bersuami, Ini Riwayat Kampung Janda

Ibu-ibu mengenakan daster, terlihat asyik mengobrol di warung, atau di depan rumah mereka.

Tribunnews Bogor
Salah satu rumah yang dihuni janda di Kampung Janda, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BOGOR - Suasana di 'Kampung Janda' sepintas sama seperti kampung biasanya. Banyak warga yang melakukan aktivitas di sekitar rumah mereka.

Namun saat siang hari, di kampung atau desa janda itu, aktivitas warganya lebih didominasi para perempuan dan anak-anak.

Ibu-ibu mengenakan daster, terlihat asyik mengobrol di warung, atau di depan rumah mereka.

Sementara, para suami dan anak laki-laki mereka yang sudah besar, jarang terlihat karena sebagian besar sedang bekerja di galian pasir, di atas bukit.

Beberapa, tidak memiliki suami karena sudah meninggal, atau karena cerai.

Kampung Panyarang di Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor tersebut, memang akrab disapa Kampung Janda oleh warga sekitar. Karena, banyak perempuannya yang menjadi janda.

Usianya beragam, mulai dari 14 tahun hingga lanjut usia sekitar 60-70 tahun.

"Di RT saya saja, dari 65 kepala keluarga (KK), ada sekitar 30 perempuan yang menjanda," kata Ketua RT 05, Ade Suryadi kepada TribunnewsBogor.com.

Para perempuan itu, kata dia, menjanda akibat banyak hal. Ada yang suaminya meninggal tertimbun galian pasir, atau meninggal karena penyakit.

"Di kampung sini kan sekitar 80 persen warganya bekerja sebagai penambang galian di atas," ujarnya.

Ia menuturkan, beberapa tahun yang lalu, pernah terjadi longsor di galian pasir, sehingga menewaskan ratusan orang.

"Nah, makanya istri-istrinya pada menjanda, dan longsor yang menelan korban jiwa di sana bukan sekali dua kali saja," jelasnya.

Selain itu, faktor nikah muda di kampung tersebut juga menjadi penyebab banyaknya perempuan yang menjanda.

"Di sini, ada yang umur 17 tahun sudah jadi janda dua kali, 12-14 sudah pada menikah dan jadi janda. Saya saja sudah punya cucu, padahal usia masih 30 tahunan," ujarnya sambil tertawa.

Karena minimnya pendidikan, akhirnya para orangtua memutuskan untuk menikahkan anak perempuan mereka meski masih berusia dini.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved