Headline News Hari Ini

Loyalis Presiden Turki Nekat Hadang Tank

Perlawanan sipil muncul setelah Erdogan menyerukan agar rakyat turun ke jalan untuk melawan tentara pemberontak.

Editor: taryono
BBC
Dua warga Turki berada di dekat tank yang tergeletak di jalan protokolo Istanbul, Turki. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, ISTANBUL - Seantero negeri Turki mendadak mencekam, Jumat (15/7) malam waktu setempat.

Itu terjadi ketika sekelompok personel militer negeri itu melakukan upaya kudeta dengan cara memblokir bandara, menutup jembatan, menyerbu gedung parlemen dan stasiun televisi.

Faksi militer itu dalam pernyataannya menyebut telah mengambil alih pemerintahan Turki dari Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Namun, beberapa jam kemudian upaya kudeta itu gagal karena rakyat loyalis Erdogan melakukan perlawanan.

Perlawanan sipil muncul setelah Erdogan menyerukan agar rakyat turun ke jalan untuk melawan tentara pemberontak.

Erdogan mengeluarkan seruan melalui fasilitas FaceTime yang kemudian disiarkan secara nasional oleh stasiun televisi ke seluruh negeri.

Upaya kudeta yang hanya berlangsung beberapa jam itu ternyata membawa korban tidak sedikit, yaitu sekitar 250 orang tewas dan 1.500-an orang lainnya terluka. Korban tewas terbanyak berada di Kota Ankara, yaitu 42 orang, 17 di antaranya anggota polisi.

Korban tewas itu akibat baku tembak di dekat gedung parlemen. Untuk menguasai gedung parlemen, tentara pemberontak menggunakan helikopter.

Tak lama kemudian helikopter tersebut hancur ditembak pesawat tempur F-16 Angkatan Udara Turki.

Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim, mengumumkan, Angkatan Bersenjata Turki telah menangkap 2.893 tentara pemberontak. Jumlah tersebut termasuk lebih dari 100 personel militer yang sebelumnya menutup jembatan Bosporus.

Jembatan Bosporus merupakan jembatan yang menghubungkan wilayah Turki di Asia dan Eropa.

Erdogan yang telah berkuasa selama 13 tahun mengultimatum akan melancarkan balasan kepada pihak yang berada di balik upaya kudeta. Ia menuding seorang tokoh oposisi yang kini bermukim di Amerika Serikat, Fethullah Gulen, sebagai pihak di balik kudeta.

"Mereka harus membayar mahal terkait pengkhianatan terhadap Turki," ujar Erdogan.

Erdogan mendadak muncul di Bandara Ataturk, Istanbul, dan memberi keterangan terkait upaya kudeta tersebut.

"Pemerintah telah menguasai negeri ini sepenuhnya. Sebanyak 50 persen warga telah memilih presiden, dan presiden saat ini masih bertugas," ujar Erdogan disambut sorak-sorai pendukungnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved