Waspada jika Suami Ikut Beri Komentar di Media Sosial Teman Kita
Saat itu komentar suami saya adalah menanyakan tentang kapan teman saya tersebut menikah?
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Selamat malam Prof. Perkenalkan, nama saya Lia, usia 27 tahun. Saya sudah menikah dan dikaruniai 2 anak.
Sebagai seorang ibu pekerja, saya disibukkan oleh kewajiban mengurus rumah tangga dan juga rutinitas sebagai karyawan.
Bersyukur saya memiliki suami yang tidak membatasi saya untuk sesekali bersosialisasi dengan teman-teman saya.
Dalam hubungan kami, saya kenal dan tahu semua teman-teman suami saya. Begitu pun suami, tahu dan mengenal semua teman-teman saya.
Suatu ketika, suami saya ikut memberikan komentar pada akun media sosial seorang teman saya. Seorang teman saya salah paham dan tersinggung atas komentar suami saya.
Saat itu komentar suami saya adalah menanyakan tentang kapan teman saya tersebut menikah?
Suami saya lalu mengklarifikasi bahwa dia tidak ada maksud menyudutkan teman saya tersebut, karena sebelum-sebelumnya suami saya sering bercanda tentang hal-hal pribadi teman-teman saya, dan tidak pernah menjadi suatu permasalahan.
Tidak pernah ada teman-teman saya yang tersinggung termasuk teman saya tersebut.
Pada awalnya setelah kejadian itu, saya berniat untuk tidak 'turun tangan' dengan mengkonfrontasi langsung teman saya atau membuat status-status menyindir seperti yang dilakukannya di akunnya.
Hingga dia menyindir suami saya pada percakapan media sosial lainnya antara saya, dia dan beberapa teman lainnya.
Saya merasa tidak dihargai sebagai seorang teman. Setelah sikap saya yang berusaha untuk berkepala dingin dan tetap ingin menjaga pertemanan dengannya, dibalas dengan komentar-komentar yang menyindir suami saya secara terus-menerus.
Dia pun mengakui bahwa dia memang bermaksud menyindir suami saya setelah saya mengkonfrontasi langsung dengan menanyatakan padanya, "Kalau yang kamu sindir itu suamiku, tidak ada gunanya di sini karena suamiku tidak ada dalam grup percakapan ini."
Jawabnya: "Oh, aku kira suamimu yang baca percakapan-percakapanmu dengan teman-temanmu di grup percakapan ini".
Apa yang harus saya lakukan Prof? Saya sangat menyadari setelah semua ini, persahabatan kami selama 7 tahun ini, tidak bisa seperti semula lagi. Terimakasih atas sarannya Prof. (*)
Jawaban:
Lia yang manis,
Apa yang anda anggap baik, apa yang anda anggap biasa, belum tentu dianggap sama oleh orang lain.
Semua itu tergantung dari dasar pendidikan yang diterimanya, baik pendidikan informal yang diperoleh dari keluarganya, pergaulannya, dan masyarakat di sekitarnya, maupun pendidikan formal yang diperoleh di bangku sekolah.
Semua ini mempengaruhi cara pandang dan cara menganalisa seseorang terhadap suatu keadaan atau masalah yang dihadapinya.
Anda tahu media sosial yang digunakan oleh seseorang pada permulaan dianggap hanya untuk kelompok itu saja, hanya diketahui oleh kelompok itu saja.
Tetapi kelompok itu mempunyai teman-teman dan keluarga yang bisa membaca dan mengetahui apa yang terjadi dalam kelompok lainnya. Kalau semua orang memahami dan mau menaati etika sebuah sistem, tentu orang yang tidak termasuk dalam kelompok media sosial tidak mau dan tidak boleh ikut dalam kelompok itu.
Seperti suami anda, ia boleh membaca, boleh tahu apa yang ada dalam kelompok sosial anda, tetapi tidak boleh ikut campur atau ikut mengomentari seperti yang dilakukannya kepada teman anda.
Tindakan yang dilakukannya menyalahi aturan dan etika kelompok.
Tetapi sekarang semua kebablasan. Kalau sesuatu apapun itu sudah ada tertulis dalam satu kelompok sosial, sepertinya semua orang di dunia ini bisa mengetahuinya kalau mereka ingin tahu.
Sehingga apa yang dirasakan seseorang yang tertulis dalam akun kelompoknya, ternyata siapapun yang ingin tahu dan mempunyai kemampuan cara membukanya akan bisa mengetahuinya, bisa mengetahui semuanya, menyimpan dan menyebarluaskannya.
Apa yang tidak bisa dibobol? Rahasia negara pun bisa menjadi bukan rahasia lagi. Sekarang tergantung orang itu, ingin tahu hanya untuk dirinya, atau ingin ikut campur atau ingin menyebarkannya.
Tergantung sifat orang itu. Dan jangan lupa bahwa apa yang dilakukannya sudah memasuki ranah hukum. Maunya iseng-iseng bisa menjadi malapetaka.
Suami anda boleh membaca apa yang anda lakukan dalam kelompok media sosial yang anda miliki, kalau ia minta izin dan anda bolehkan.
Ia memang suami anda. Namun tidak harus ia boleh tahu apapun yang anda lakukan. Semua orang mempunyai hal-hal yang bersifat pribadi yang tidak perlu diketahui oleh suaminya atau istrinya.
Jadi seharusnya kalau suami anda menghargai anda, ia harus menanyakan pada anda bolehkah ia membaca akun media sosial anda?
Kalau anda tidak memberikan seharusnya ia menghormati anda, tidak akan membacanya.
Tetapi kalau anda memberikan, tidak ada rahasia di antara kami berdua, maka silakan ia boleh membacanya dan boleh membicarakan dan mengomentarinya pada anda.
Tetapi karena akun ini bukan akun keluarga, tetapi akun pribadi, maka dalam mengomentari atau mengkritik apa yang ada di akun itu hanya boleh dilakukan dengan anda saja.
Tidak boleh ia ikut dalam kelompok ini, apalagi ikut mengomentari.
Wajar teman anda marah. Wajar teman anda terus melampiaskan kemarahannya karena komentar suami anda menyangkut masalah pribadinya, masalah nilai dirinya.
Buat orang lain mungkin itu hanya olok-olok belaka. Tetapi buat ia yang tersangkut, pertanyaan dan komentar suami anda benar-benar menyakitkan.
Ia bisa merasakan seperti dihina sebagai perempuan tidak laku, atau perempuan tidak menarik sehingga tidak ada lelaki yang mendekatinya, dan arti-arti lainnya yang dirasakannya.
Ia merasakan sebagai penghinaan yang luar biasa, yang membuka aibnya sehingga terbaca oleh banyak orang. Dan akhirnya ia lampiaskan kemarahannya dengan mencoba membalik kepada suami anda agar bisa merasakan penderitaan yang ia alami akibat dari komentar suami anda.
Kalau anda ingin menjaga persahabatan tetap baik, maka hentikan diskusi itu dalam akun media anda.
Anda telepon teman anda, bisakah bertemu berdua di suatu tempat yang anda sepakati untuk membicarakan masalah ini.
Kalau ia setuju, maka bicarakan masalah ini dengan hati lapang, hati ikhlas dengan tujuan menjalin kembali hubungan pertemanan seperti dahulu.
Minta maaf kepada teman anda atas kejadian ini. Minta maaf atas canda dari suami anda, dsb.
Kalau dia menerima dan ikhlas memaafkan suami anda, maukah ia bertemu bertiga sehingga bisa saling memahami dan bisa memaafkan apa yang telah terjadi dan tidak mengulang hal itu.
Ini semua sebagai pembelajaran buat anda. Tidak semua hal yang bersifat pribadi dari suami atau istri otomatis menjadi bagian dari diri anda berdua.
Akun media sosial milik satu kelompok bersifat personal. Kalau kebetulan tahu boleh, tetapi jangan terlibat. Seandainya teman anda tidak mau dan tetap keukeuh dengan pendiriannya, "Tiada maaf bagimu", terima dengan ikhlas.
Ini adalah risiko anda ikut dalam akun media sosial. Anda membiarkan masalah ini berlarut karena permulaan anda menganggap ini masalah kecil. Kecil buat anda, tetapi besar buat teman anda.
Agar anda tidak terus merasa tidak nyaman dan hubungan suami-istri tetap baik, maka sebaiknya hentikan terlibat dalam aktivitas akun media sosial anda.
Anda tentu tidak terlalu sibuk berkomunikasi dengan teman-teman, membaca semua pembicaraannya yang kadang membuat emosi nyaman atau tidak nyaman.
Masih banyak yang harus anda kerjakan dan pelajari. Masih banyak waktu anda harus digunakan untuk membina keluarga sebagai sebuah tim bersama suami dan anak-anak sehingga terwujud keluarga bahagia.
Masih banyak waktu yang anda harus gunakan untuk meniti karier sehingga anda mampu menggunakan dalam mendewasakan diri, mengembangkan ilmu dan pengetahuan serta mampu mendapatkan penghasilan yang tinggi untuk kesejahteraan keluarga.
Hentikan memikirkan masalah itu. Masalah itu sudah lewat. Yang lewat, biarlah lewat. Mulai dengan semangat baru.
Pengalaman dahulu sebagai pembelajaran untuk mendewasakan diri anda. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ilustrasi_20160731_132746.jpg)