Ibu Hamil dan Bayinya Meninggal Bersama, Hendak Bersalin Tidak Ada Bidan
Kisah pilu yang masih saja kita dengar dan terjadi terutama di daerah-daerah pelosok negeri.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LIUKANG TANGAYYA - Ini adalah kisah nyata memilukan yang terjadi di Indonesia. Kisah pilu yang masih saja kita dengar dan terjadi terutama di daerah-daerah pelosok negeri.
Masalah klasik yang ternyata belum juga tertangani hingga kini dan terus saja menjadi keluhan warga di perkampungan pelosok negeri Indonesia Tercinta.
Akses transportasi yang sulit menjangkau lokasi pusat kesehatan, tenaga kesehatan yang tidak mencukupi atau kurang, fasilitas kesehatan yang tidak memadai dan jauh.
Dan akhirnya, pasien yang membutuhkan penanganan segera, harus berakhir dengan tragis.
Kisah pilu itu, pada Kamis (1/9/2016), menimpa seorang ibu hamil beserta bayinya.
Ibu hamil bernama Sumarni (21) asal Pulau Satanger, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan meninggal dunia bersama bayinya karena tak tertangani medis dengan layak dan segera.
Sumarni menghembuskan napas terakhir saat hendak menjalani persalinan di sebuah puskesmas.
Informasi yang dihimpun tribunpangkep.com dari keluarga almarhumah, Jamal, mengatakan bahwa Sumarni sempat dibawa ke Puskesmas Pulau Sailus dengan menumpangi perahu nelayan.
Namun, sesampai di lokasi, bidan tidak ada di Puskesmas tersebut. Hanya perawat jaga yang melayani.
Karena tidak punya keahlian di bidang persalinan, maka Sumarni pindah ke puskesmas lain.
"Perawat tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan bidangnya, akhirnya ibu Sumarni ke Sumbawa Nusa Tenggara Barat memeriksa di Puskesmas Sumbawa. Namun saat diperiksa, petugas medisnya bilang anaknya sudah meninggal dalam janin," cerita Jamal.
Diduga, bayi Sumarni meninggal ketika dalam perjalanan saat menuju ke Puskesmas Sumbawa.
Waktu tempuh Satanger-Sumbawa kurang lebih 6 jam. Sumarni dan keluarga tiba di Sumbawa pukul 18.00 Wita.
Mereka menuju Puskesmas Sumbawa NTB pukul 18.30 Wita. Kemudian pukul 20.00 Wita ia dirujuk ke Rumah Sakit Sumbawa.
Kamis sekitar pukul 23.00 Wita, Sumarni meninggal di rumah sakit tersebut.
Jenazah sudah dimakamkan namun bukan di Pangkep. Melainkan di Sumbawa NTB.
"Karena jarak terlalu jauh untuk dibawa ke rumah duka di Pulau Satanger," kata Jamal. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/sumarni-meninggal_20160903_084812.jpg)