Kepsek SMPN 12 Kotabumi Larang Wartawan Meliput

"Saya cuma menjalankan tugas saja, kalau ibu tidak mengizinkan berarti tidak bisa masuk"

Penulis: anung bayuardi | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung/Anung
SMPN 12 Kotabumi 

Laporan Reporter Tribun Lampung Anung Bayuardi

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KOTABUMI - Sejumlah kepala sekolah tampaknya alergi dengan wartawan. Pasalnya ketika sejumlah wartawan untuk melanjutkan perkembangan berita, pasca ambruknya salah satu atap ruang ruang kelas SMP Negeri 12 Kotabumi Lampung Utara (Lampura), Neneng Sarniati selaku Kepala Sekolah (Kepsek) tidak mau ditemui.

"Maaf, kata ibu (Kepsek) belum bisa ditemui karena lagi ada acara di dalam (salah satu ruangan di sekolah tersebut). Kalau mau besok datang lagi,"kata seorang Satpam.

Lalu, para awak media kembali menjelaskan jika kedatangan mereka hanya untuk melihat dan meliput kondisi sekitar ruangan yang ambruk tersebut. Namun, penjelasan itu tetap tak membuahkan hasil.

"Saya cuma menjalankan tugas saja, kalau ibu tidak mengizinkan berarti tidak bisa masuk. Tadi pagi saja ada dua orang wartawan datang, namun tidak diizinkan ibu masuk,"ungkapnya.

Para wartawan pun meninggalkan sekolah tersebut, tanpa ada jawaban dari pihak sekolah. Ardi, salah satu awak media membenarkan kepala sekolah tidak ingin menemui awak media. "Tadi kami kesana kepala sekolah gak mau temui kami," ucapnya.

Bahkan, awak media pun juga sudah meminta perwakilan dari sekolah, untuk memberikan perkembangannya. Tetapi, tetap saja mereka tidak bergeming.

Untuk diketahui, sudah tiga bulan dikosongkan, atap salah satu ruang kelas SMP Negeri 12 Kotabumi Lampung Utara (Lampura), akhirnya ambruk, Senin (19/9) sekitar pukul 15.00 WIB. Kuat dugaan, robohnya atap bangunan itu karena kayu penyangga telah rapuh.

Namun saat ini setelah ambruknya ruangan yang diperuntukkan kelas VIII-IX itu, dua ruang kelas di sebelahnya juga terancam. Bangunan ruang ambruk dan yang terancam tersebut, berdiri sejak tahun 2006
Runtuhnya atap ruang kelas tersebut, kali pertama diketahui Jumono (31) selaku penjaga sekolah. Menurut dia, saat itu setelah turun hujan tiba-tiba terdengar suara seperti bangunan ambruk.

"Setelah hujan deras, tiba-tiba saya mendengar suara 'gubrakkkk', dan setelah saya lihat, ternyata salah satu atap ruang kelas itu roboh. Memang ruangan itu tidak dipakai lagi sejak beberapa bulan lalu,"katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved