Pantas Orang-orang Bule Menggilai Batik Indonesia, Ini Alasannya

Tampaknya ungkapan rumput tetangga selalu tampak lebih hijau juga bisa diaplikasikan pada kain batik nusantara.

Tayang:
Editor: soni
KOMPAS/SRI REJEKI
Para desainer dari Italia melihat proses pembuatan batik, seperti pengecapan batik, di tempat produksi batik Saud Effendi di Kampoeng Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (27/2/2014). Mereka tertarik menggunakan batik sebagai material bagi karya busana mereka, selain ingin mendalami makna dan filosofi motif batik sehingga dapat membuat karya mereka lebih dalam. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Tampaknya ungkapan rumput tetangga selalu tampak lebih hijau juga bisa diaplikasikan pada kain batik nusantara.

Sebab, walaupun batik kurang dihargai di kalangan masyarakat Indonesia, nyatanya kain ini dicari-cari, diapresiasi, dan dicintai di luar negeri.

Perancang busana terkemuka di Indonesia, Ghea Panggabean, yang ditemui di Ghea Fashion Studio, Jakarta, Jumat (9/9/2016) berkata bahwa orang luar negeri memiliki apresiasi yang sangat tinggi terhadap kain tradisional Indonesia.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kolektor yang datang ke Bali untuk mencari kain asli Indonesia.

“Buku-buku batik juga sudah banyak yang ditulis oleh orang bule,” tambahnya.

Ghea sendiri adalah salah satu yang jatuh cinta dengan warisan budaya Indonesia walaupun menghabiskan masa kecilnya di luar negeri.

Dia menuturkan, mungkin karena saya masa kecilnya di luar negeri jadi ada kekangenan dan apresiasi terhadap akar warisan budaya Indonesia.

Walaupun telah tinggal selama sembilan tahun di Eropa dan mengenyam pendidikan untuk merancang busana di London, Ghea ingin menjadi perancang busana Indonesia.

“Saya punya misi menterjemahkan warisan budaya menjadi fashion, itu tantangan dan akhirnya saya mendapat konsep, saya harus bisa bicara tentang kekayaan Indonesia secara tidak langsung melalui karya saya,” ungkapnya.

Perancang yang sudah sering dijadikan juri dan menggelar peragaan busana di luar negeri ini kemudian bercerita bahwa di Malaysia, negara yang juga memiliki batiknya sendiri (Colek), batik Indonesia dianggap lebih hebat.

“Makanya kok lucu banget, sudah empat kali berturut-turut saya dijadikan juri tiap tahun untuk batik Malaysia,” ujarnya menceritakan pengalamannya diundang sebagai juri oleh Yayasan Budi Penyayang, sebuah yayasan batik Malaysia yang didirikan oleh Datin Endon Mahmood.

Dia melanjutkan, walaupun sangat lain ya sudahlah, buat saya kehormatan. Pokoknya di Malaysia saya senang banget kok sepertinya diapresiasi sekali sampai selalu jadi juri. Sekalian dapat kenalan baru, networking, dan pengalaman, kan?

Penulis : Shierine Wangsa Wibawa

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved