Ike Terharu Nama Sang Ayah Diabadikan

Markas besar TNI AU mengukuhkan nama almarhum Mohamad Bunyamin sebagai nama pangkalan udara (Lanud) TNI AU di Tulangbawang

Tayang:
Penulis: Endra Zulkarnain | Editor: soni

Laporan Reporter Tribun Lampung Endra Zulkarnain

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, MENGGALA - Markas besar TNI AU mengukuhkan nama almarhum Mohamad Bunyamin sebagai nama pangkalan udara (Lanud) TNI AU di Tulangbawang, yang sebelumnya bernama Lanud Astra Ksetra. Mohamad Bun Yamin merupakan ayahanda mantan Kapolda Lampung, Brigjen Pol Ike Edwin.

Ike Edwin tak bisa menutupi rasa harunya saat Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I (Pangkoopsau I) Marsekal Muda Yuyu Sutisna membacakan Surat Keputusan Kepala Staf TNI- AU Nomor KEP/678/X/2016. SK itu tentang perubahan nama Lanud Astra Ksetra menjadi Lanud Mohamad Bunyamin.

Perubahan nama Lanud Astra Ksetra menjadi Lanud Mohamad Bunyamin merupakan satu dari tujuh nama Lanud yang ada di beberapa wilayah di Indonesia sesuai SK Kepala Staf TNI-AU. Perubahan nama ini diresmikan melalui upacara militer.

Mata Ike nampak berkaca-kaca saat nama ayahnya resmi diabadikan sebagai nama pangkalan udara di Lampung. "Saya bangga, dan terima kasih karena nama ayah kandung saya bisa diabadikan menjadi nama pangkalan udara di Lampung," ucap Ike Edwin seusai upacara peresmian Lanud M Bun Yamin, Rabu (9/11) siang.

Ike hadir mengenakan pakaian kebesaran Kerajaan Skala Brak, lengkap dengan tongkat komandonya. Perdana Menteri Kerajaan Skala Brak itu juga memboyong keluarga besarnya ke Tuba.

Ike terus mengumbar senyum usai nama ayahnya resmi tersemat sebagai nama Lanud di Lampung. Ike dan keluarga pun berfoto di depan tugu yang bertuliskan nama Lanud Mohamad Bunyamin.

Pemilihan Bunyamin bukan tanpa alasan. Bunyamin adalah prajurit TNI AU dengan pangkat terakhir Mayor Udara. Ia dinilai berjasa mengembangkan TNI-AU di Lampung. Pria kelahiran 2 Maret 1932 ini, semasa aktif, memang lama bertugas di pangkalan udara tersebut.

Selain itu, Bunyamin merupakan keturunan dari trah Kerajaan Skala Brak. Ayahanda Bunyamin, Sultan Pangeran Suhaimin, merupakan kakek dua mantan Kapolda Lampung, Ike Edwin dan Edwarsyah Pernong. Bun Yamin sendiri merupakan pangeran Kerajaan Skala Brak.

Bunyamin bergabung dengan AURI (sebelum berubah nama jadi TNI-AU) pada 1946. Ia melaksanakan pendidikan militer pertama di Pangkalan TNI-AU Kalijati Subang, Jawa Barat.

Tahun 1950, Bunyamin mendapat mandat sebagai Kepala Detasemen Tulung Branti di Lampung yang kemudian berganti nama menjadi Bandara Radin Inten II.

Kemudian diangkat menjadi Kepala Detasemen Astra Ksetra yang merupakan cikal bakal Lanud Astra Ksetra. Tahun 1974, Bunyamin diangkat menjadi Kepala Bandara Simpang Tiga (sekarang menjadi Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru) hingga pensiun tahun 1984.

Pangkoopsau I Marsekal Muda Yuyu Sutisna mengatakan, pemilihan nama bergulir mulai Februari, dan baru diresmikan November ini. "Tujuh Lanud di Indonesia yang diresmikan pergantian namanya. Kami menerima berbagai saran dari pemerintah daerah, tokoh adat, dan tokoh agama," kata Yuyu.

Menurut dia, ada beberapa nama tokoh yang diseleksi untuk diabadikan menjadi nama Lanud Lampung. Dengan berbagai pertimbangan, maka yang dianggap cocok dan terbaik adalah Pangeran M Bunyamin. "Selain selaku putra daerah terbaik, juga merupakan perintis pertama TNI-AU di sini," kata Yuyu.

Yuyu menceritakan, pengajuan nama Bunyamin melalui mekanisme dan koordinasi antara Mabes TNI AU dengan pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta ahli waris langsung.

"Mayor Udara Mohammad Bunyamin Suhaimi nama lengkapnya. Merupakan putra asli Lampung dan merupakan prajurit TNI AU terbaik yang sudah berjuang mengembangkan TNI AU di Lampung dan hampir semua wilayah di Pulau Sumatera," jelasnya.

Peresmian ini juga dihadiri langsung istri almarhum Bunyamin, Hj Raden Ajeng Maslena Dewi. Dengan menggunakan kursi roda, ibunda Ike Edwin ini berkali-kali mengusap mata dan wajahnya saat upacara berlangsung.

Ike Edwin menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak atas diabadikannya nama ayahnya menjadi Lanud di Lampung.

"Sebagai keturunan dan ahli waris, atas nama keluarga besar saya berterima kasih. Kami bangga karena bukti perjuangan almarhum papa saya diakui lebih dan ditabalkan namanya," ucap Ike Edwin.

Yuyu menambahkan, keberadaan Lanud Bunyamin merupakan aset bernilai strategis bagi angkatan udara. Ini mengingat luas areal Lanud yang berlokasi di perbatasan antara Tulangbawang dan Lampung Tengah ini cukup luas, yakni sekitar 5 ribu hektare.

Sejauh ini, kata dia, Lanud M Bun Yamin kerap disinggahi pesawat jenis baling-baling semacam Hercules dan CN-295. Lanud ini juga menjadi basis latihan penembakan dan pengeboman udara.

"Dengan karakteristik ini, saya berkeyakinan bahwa di kemudian hari wilayah ini akan menjadi pusat latihan gabungan TNI yang berintegrasi antara darat, laut, dan udara," kata Yuyu.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved