Harga BBM di Lampung

Harga Pertamax Melejit, Dompet Kelas Menengah Kian Tercekik, Analisa Pengamat

Rupiah tembus Rp18.000 & Pertamax melonjak Rp16.250, kelas menengah menjerit tercekik. Ekonom peringatkan risiko ambruknya penopang ekonomi.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
PERTAMAX NAIK - Foto ilustrasi, petugas SPBU mengisi BBM jenis Pertamax satu SBPU di Bandar Lampung. Kombinasi merosotnya rupiah, naiknya suku bunga, dan melambungnya harga BBM nonsubsidi ibarat hantaman bertubi-tubi bagi kelompok masyarakat yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi. Dosen sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Intan Lampung, Dr. Ahmad Habibi, SE., ME., CHRMP, memotret kondisi ini dengan sudut pandang yang mencemaskan. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, sementara harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter.
  • Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 25 basis poin menjadi 5,50 persen untuk meredam gejolak ekonomi global.
  • Akademisi menilai kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga, dan BBM berpotensi menekan daya beli masyarakat.
  • Kelas menengah diperkirakan beralih ke BBM subsidi demi menghemat pengeluaran.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Bagi jutaan keluarga kelas menengah di Indonesia, angka-angka yang bergerak di papan bursa efek atau layar gawai belakangan ini bukan lagi sekadar statistik dingin.

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Andre Rosiade Dorong Aturan Tambahan yang Lebih Tegas

Ketika nilai tukar rupiah merosot tajam hingga menembus level psikologis baru Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, ada kecemasan nyata yang menjalar di meja makan rumah tangga.

Kecemasan itu kian berwujud nyata saat masyarakat mengisi bahan bakar di SPBU per Rabu (10/6/2026). Harga Pertamax melompat jadi Rp16.250 per liter, sementara varian nonsubsidi lainnya seperti Dexlite meroket hingga Rp23.000 per liter.

Di saat dompet warga mulai terkuras oleh biaya transportasi, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada 9 Juni 2026 mengambil langkah pahit, menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Sebuah kebijakan pengetatan moneter yang diambil demi meredam gejolak global akibat konflik Timur Tengah, namun di sisi lain, berisiko mengunci erat-erat daya beli masyarakat bawah dan menengah.

Dilema Dapur dan Dompet yang Kian Tipis

Kombinasi merosotnya rupiah, naiknya suku bunga, dan melambungnya harga BBM nonsubsidi ibarat hantaman bertubi-tubi bagi kelompok masyarakat yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi.

Dosen sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Intan Lampung, Dr. Ahmad Habibi, SE., ME., CHRMP, memotret kondisi ini dengan sudut pandang yang mencemaskan.

Menurutnya, kenaikan BI-Rate otomatis membuat biaya modal dan cicilan menjadi lebih mahal.

"Naiknya BI-Rate akan menekan konsumsi masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh melemahnya rupiah yang menyebabkan biaya produksi berbasis bahan baku impor ikut membengkak. Ujung-ujungnya, harga barang di pasar akan merangkak naik," ujar Ahmad Habibi, Rabu (10/6/2026).

Di tengah impitan tersebut, Habibi melihat sebuah fenomena pertahanan diri yang kini mulai dilakukan oleh masyarakat kelas menengah: bermigrasi atau shifting ke BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar demi menyelamatkan sisa isi dompet.

"Kelompok masyarakat menengah kemungkinan besar akan beralih menggunakan BBM bersubsidi untuk mempertahankan daya beli mereka. Jika migrasi ini terjadi secara masif, risikonya adalah membengkaknya anggaran subsidi pemerintah," jelasnya.

Menjaga Kelas Menengah Agar Tidak Tergelincir

Lebih dari sekadar hitungan makro, Habibi mengingatkan ada pertaruhan kemanusiaan dan sosial yang besar di balik layar ekonomi ini.

Selama ini, konsumsi rumah tangga adalah jantung utama yang menopang lebih dari 50 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dan motor dari konsumsi itu adalah kelas menengah.

Jika tekanan ekonomi hari ini dibiarkan tanpa adanya kebijakan progresif dari pemerintah, seperti reorientasi perdagangan mata uang alternatif (Yuan) atau penguatan bahan baku lokal, maka ada jutaan kepala keluarga yang terancam turun kelas menjadi kelompok miskin baru.

"Kontribusi kelas menengah terhadap perekonomian kita sangat signifikan. Jika kelompok ini tertekan hingga tergelincir menjadi masyarakat ekonomi bawah, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit mencapai target."

"Dampak karambolnya (multiplier effect) akan sangat negatif ke berbagai sektor kehidupan masyarakat," pungkas Habibi mengingatkan.

Kini, di tengah gemuruh harga yang serba naik, kelas menengah dipaksa kembali memutar otak, memangkas impian-impian kecil, dan bertahan di tengah badai ekonomi yang kian menyesakkan dada.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved