Tak Ingin Jadi Beban Keluarga, Kakek 78 Tahun Berjualan Tahu

Kalo enggak abis, nombok, risiko saya. Jadi kitanya kena utang sama pabrik, sama lontong.

Nursita Sari
Toib (78), penjual tahu di area SPBU, Jalan Tomang Raya Nomor 59, Jakarta Barat, hendak mengangkat barang dagangannya, Senin (14/11/2016). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Setiap hari, seorang pria lanjut usia selalu berjualan tahu di area SPBU, Jalan Tomang Raya Nomor 59, Jakarta Barat. Dia adalah Toib (78), ayah tujuh anak yang sudah 17 tahun berjualan tahu.

Toib bercerita, ia mulai berjualan dari tempatnya mengambil tahu di Kelurahan Kota Bambu Selatan, Jakarta Barat, sekitar pukul 15.00 WIB.

Butuh waktu sekitar dua jam berjalan kaki dengan memikul tahu dari lokasinya mengambil tahu hingga tiba di area SPBU tempatnya berjualan.

"Datang di sana (area SPBU) jam 05.00 atau 05.30 (sore). Kalo hujan, neduh di jalan," ujar Toib, saat ditemui Kompas.com, di sekitar kontrakannya, di Kota Bambu Selatan, Senin (14/11/2016).

Setiap hari, Toib berjualan hingga dagangannya habis terjual. Namun, apabila pukul 23.00 WIB tahu yang dijualnya belum juga habis, Toib akan pulang dan menjualnya sambil berjalan menuju kontrakan.

Toib baru tiba di kontrakannya sekitar pukul 01.30 WIB dini hari. Ia mengaku hanya tidur satu sampai dua jam setiap harinya. Seusai shalat subuh, Toib harus kembali menyiapkan barang dagangannya.

"Kalo keterusan (tidur), yang beresin tahu, yang siapin bumbu, yang cuci tempat tahunya siapa," kata dia.

Modal yang dikeluarkan Toib setiap harinya mencapai Rp 151.000, yakni Rp 106.000 untuk modal membeli tahu dan Rp 35.000 untuk membeli lontong.

Modal tersebut harus dikembalikan seusai dia selesai berjualan. Jika dagangannya tidak habis, Toib tetap harus membayar modal dengan jumlah yang sama.

"Kalo enggak abis, nombok, risiko saya. Jadi kitanya kena utang sama pabrik, sama lontong. Makanya sampe malem (jualan), pengin abis supaya enggak kena utang kitanya," ucap Toib.

Toib menjual tahu itu tergantung ukurannya. Apabila cukup besar, dia akan menjual lebih sedikit jumlahnya, begitu sebaliknya.

Selain itu, dia juga memiliki rasa simpati kepada pembeli yang dia pikir orang sederhana, sama seperti dirinya.

"Kalo orangnya yang beli bukan orang yang berduit, kasihan. Rp 5.000 dapat 10 (tahu)," tuturnya.

Apabila dagangannya habis, untung yang dia peroleh sekitar Rp 80.000 per hari. Uang itu dia bagi tiga untuk dikirim ke istrinya di Cirebon, untuk makan, dan bayar kontrakan sebesar Rp 500.000 per bulan.

"Buat kontrakan Rp 15.000, makan Rp 25.000, Rp 40.000-nya buat dikumpul buat keluarga," kata Toib.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved