Korban Banjir Terpaksa Mandi dan Mencuci dengan Air Selokan
Listrik padam dari kemarin, makanya kita kesulitan dapat air bersih. Begitu juga sumur air sudah dipenuhi lumpur
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BIMA- Pasca dilanda banjir, warga Kota Bima kesulitan air bersih. Warga pun terpaksa menggunakan air selokan untuk kebutuhan sehari-hari.
Janah, warga Kelurahan Sarae, Kecamatan Rasanae Barat, mengaku Ia dan warga lainya kesulitan mendapatkan air bersih menyusul listrik padam akibat banjir yang merendam rumah mereka.
"Listrik padam dari kemarin, makanya kita kesulitan dapat air bersih. Begitu juga sumur air sudah dipenuhi lumpur. Sementara mesin pompa air tidak bisa difungsikan," kata korban dampak bencana tersebut.
Bencana banjir yang menerjang 5 kecamatan di daerah itu membuat warga terpaksa menggunakan air selokan untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian serta perabotan rumah tangga.
Selain untuk kebutuhan mandi dan mencuci, air sisa banjir bercampur lumpur yang mengalir depan pekarangan rumah cenderung digunakan warga untuk membersihkan rumah.
"Ya mau gimana lagi, daripada enggak ada terpaksa kita pakai air got," tuturnya.
Sementara untuk kebutuhan memasak dan minum, mereka menggunakan air hujan yang ditampung saat mengungsi. Adapun persedian air bersih dari pemerintah untuk korban banjir belum sampai kepada warga.
"Kita juga harus cari air di kampung-kampung yang tidak kena banjir, karena stok air yang ditampung kemarin sudah habis. Apalagi tidak ada persediaan air bersih dari pemerintah," keluhnya.
Hal serupa juga dialami Aminah, warga Kelurahan Dara. Ia terpaksa menggunakan air limbah banjir yang sudah keruh dan berbau untuk mencuci pakaian dan perabotan rumah tangga.
Ia dan warga sekitar tidak peduli terhadap bahaya menggunakan air kotor itu bisa menimbulkan penyakit. Warga tak ada pilihan lain kecuali memanfaatkan air keruh bercampur lumpur, karena kesulitan mendapat air pasca banjir.
"Kalau menunggu bantuan dari pemerintah, sampai kapan. Padahal sudah 6 hari kita diambang kesulitan," kata Aminah.
Selain membutuhkan persedian air bersih, warga dampak bencana ini meminta jaringan listrik yang sudah lama padam segera diaktifkan kembali.
"Hampir seminggu kami hidup tanpa jaringan listrik. Kami kesulitan air bersih semenjak listrik mati. Rumah-rumah warga juga belum bisa dibersihkan," tutur Aminah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/warga-korban-banjir_20161226_102916.jpg)