Meninggal Mendadak Belum Tentu Serangan Jantung, Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Banyak orang meninggal secara mendadak. Umumnya, masyarakat Indonesia mengenal kejadian tersebut akibat serangan jantung atau heart attack.

Editor: taryono
Shutterstock
Ilustrasi. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Banyak orang meninggal secara mendadak. Umumnya, masyarakat Indonesia mengenal kejadian tersebut akibat serangan jantung atau heart attack.

Menurut Kementerian Kesehatan, berdasarkan diagnosis dokter, prevalensi penyakit gagal jantung di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,13 persen. 

Kemudian, prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia pada 2013 sebesar 0,5 persen dari jumlah pasien yang berobat. Sedangkan gejalanya mencapai 1,5 persen. 

dr Jeffrey Wirianta, SpJP, dokter spesialis jantung RS Jantung Diagram, Cinere, Depok mengatakan, tidak selamanya orang yang meninggal mendadak disebabkan serangan jantung.

Tapi, bisa juga terjadi akibat henti jantung.

Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia perlu mengetahui orang-orang yang berisiko meninggal mendadak akibat henti jantung.

Orang-orang itu adalah mereka yang menderita jantung koroner, mengalami penurunan irama jantung, dan perempuan yang pernah mengalami preeklampsia saat hamil.

Kemudian juga mereka yang keluarganya ada yang meninggal mendadak karena henti jantung.

"Meninggal mendadak akibat jantung belum tentu karena serangan jantung, bisa juga karena henti jantung," kata Jeffrey.

Jeffrey menjelaskan, American Heart Association (AHA) menyebutkan bahwa meninggal mendadak akibat henti jantung adalah kematian mendadak akibat jantung terhenti dalam satu jam sejak gejala pertama muncul.

Henti jantung mendadak terkadang didahului beberapa gejala, di antaranya adalah pingsan, pandangan gelap, pusing, nyeri dada, sesak napas, mual, dan muntah. Tapi, henti jantung juga bisa tanpa disertai gejala.

"Lebih dari setengah kasus jantung, karena jantung berhenti mendadak. Tidak ada yang melihat, seperti tidur. 85 persen terjadi di rumah dan delapan persen tak tertolong," papar Jeffrey.

Menurut Jeffrey, faktor risiko terjadinya henti jantung adalah kekuatan pompa jantung yang menurun, penyakit jantung koroner, riwayat serangan jantung, gagal jantung kongestif, gangguan irama jantung, dan kelainan kelistrikan jantung.

"Untuk mengetahui seseorang berisiko henti jantung melalui pemeriksaan EKG, ekokardiografi, tes treadmill, multislicect, scan jantung, jantung, dan katerisasi jantung," bebernya.

Jeffrey menambahkan, gangguan irama jantung dapat di atasi dengan alat ICD dan CRT-D. Kedua alat itu ditanam di bawah lemak dada.

Alat ini bekerja jika dalam tujuh detik irama jantung menurun.

Kemudian, alat itu memberikan kejutan listrik ke sel otot jantung, sehingga pompa jantung kembali bekerja.

Alat ini harganya sekitar Rp 200 juta.

"Alat ini belum dicover BPJS Kesehatan, padahal sangat dibutuhkan," ujar Jeffrey. (*)

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved