Kopi Utek dan Penyajiannya yang Khas, Gigit Gula Nira Baru Seruput Kopi
Cara penyajiannya, kopi tanpa gula, dan bongkahan gula yang ditempatkan di wadah terpisah.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANYUWANGI - Jika berkunjung ke Desa Banjar, Banyuwangi, Jawa Timur, Anda wajib menikmati kopi yang satu ini. Namanya Kopi Utek.
Cara penyajiannya, kopi tanpa gula, dan bongkahan gula yang ditempatkan di wadah terpisah.
Cara menikmatinya, bongkahan gula nira digigit baru kopi diseruput.
BACA JUGA: Fire Ribs with Smoky Island Sauce, Olahan Daging Sapi di Pavilion Resto and Café
"Suara keletuk saat menggigit gula nira itu asal nama Kopi Utek khas Banjar Banyuwangi," kata Lukman Hakim, tokoh adat masyarakat Desa Banjar, Banyuwangi kepada KompasTravel, Minggu (12/2/2017).
Ia mengatakan, minum kopi di desanya pada pagi hari, sudah menjadi tradisi sejak lama, dan masih berlangsung hingga sekarang.
Namun karena Desa Banjar adalah penghasil gula nira, maka rasa manis yang biasanya menggunakan gula pasir, diganti pakai gula nira.
"Di sini, ada seribuan pohon aren yang diambil sarinya. Kalau di sini, nira disebut lirang. Kalau untuk kebun kopinya, ada sekitar 11 hektare kopi rakyat," ujarnya.
Sementara, Teguh Siswanto dari Banyuwangi Coffee Community kepada KompasTravel menjelaskan, menikmati Kopi Utek tidak akan mengurangi rasa asli dari kopinya.
Menurut dia, jika menikmati kopi dengan gula pasir, rasa manisnya lebih dominan, berbeda jika dinikmati dengan gula nira yang digigit.
"Saya sepakat kalau minum kopi tanpa gula agar tahu rasanya. Nah, taste kopinya ketemu dulu, baru ada rasa manis dari gula nira. Ini kan tercampur di mulut. Rasanya akan beda jika mencampur gula pasir," kata Teguh.
Pemilik Kafe Kopi Oseng Plantation yang berada di Desa Banjar tersebut mengatakan, ada keistimewaan tanaman kopi di daerah Banjar, yaitu letaknya di timur Gunung Ijen, sehingga terkena sinar matahari langsung, serta mendapatkan uap air garam dari laut Selat Bali, dan juga mineral belerang dari Gunung Ijen.
"Keistimewaan itu yang membuat kopi dari daerah sini memiliki taste yang berbeda," ujarnya.
Untuk menikmati secangkir Kopi Utek, Teguh membanderolnya Rp 5.000 sampai Rp 7.000.
BACA JUGA: Menyantap Gado-gado Ikan di Waroeng Apung Pantai Mor Sambil Melihat Kota Semarang
Kopi yang disajikan adalah kopi tubruk, yang berasal dari kebun kopi miliknya sendiri, yang berada di Desa Banjar, Banyuwangi.
"Kami mengikuti tradisi masyarakat Banjar. Karena penyajiannya tubruk, ya kami sajikan tubruk, dan gula niranya kami dapatkan dari warga sini," pungkasnya.
(Ira Rachmawati)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/kopi-utek_20170214_223050.jpg)