Berita Video Tribun Lampung
(VIDEO) Kolam Kebayan Asal Usul Nama Kelumbayan
Kebatinan Bandakhan Mahga Kelumbayan sampai saat ini menerapkan tata cara yang sama dengan adat Lampung. Mereka menerapkan falsafah
Penulis: Tri Yulianto | Editor: soni
Laporan Reporter Tribun Lampung Tri Yulianto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KOTA AGUNG - Kebatinan Bandakhan Mahga Kelumbayan sampai saat ini menerapkan tata cara yang sama dengan adat Lampung. Mereka menerapkan falsafah, di mana bumi di pijak maka di situ langit dijunjung. Sebab, kebatinan ini bukanlah turunan dari Skala Brak, melainkan dari Kerajaan Banten.
Munculnya Kebatinan Bandakhan Mahga Kelumbayan sebenarnya tidak lepas dari penyebaran agama Islam dari Banten yang ke Lampung. Dulu Sultan Banten Maulana Hasanudin mengutus rombongan ke Lampung untuk menyebarkan Islam yang dipimpin Tubagus Abdul Mutolib. Rombongan kemudian berlabuh di pesisir Lampung, tepatnya di lokasi yang kini jadi Pekon Kelumbayan Negeri, Kecamatan Kelumbayan.
Memang di sini ada teluk yang lautnya tenang, sehingga aman untuk berlabuh. Kemudian saat berlabuh, belum ada penguasa wilayah. Tubagus Abdul Mutolib pun bertemu penduduk lokal. Ketika itu mereka sangat ketakutan karena selalu jadi korban perompak yang ada di laut.
"Saat itu penduduk di sini menyebut jika saudara bisa mengalahkan para perompak di laut maka kami akan ikut saudara," ujar Ikrom Syah, sepupu Indra Bangsawan yang baru mewariskan tahtanya ke putra mahkota.
Pria bergelar Dalom Singa Diwangsa inipun lantas menjelaskan, kalau Tubagus Abdul Mutolib itulah yang sanggup menghadapi perompak. Meski demikian, tidak ada pertempuran fisik. Perompak takut karena ternyata utusan Kerajaan Banten tersebut kebal senjata tajam serta senjata lainnya.
"Saat itu perompak akan melukai lengan Tubagus dengan senjata semacam senjata api dan mengenai lengan tapi tidak luka. Bahkan Tubagus tidak merasa kesakitan. Saat itulah perompak pergi dan tidak mau ganggu penduduk di sini lagi," katanya.
Dari peristiwa itu penduduk akhirnya jadi pengikut Tubagus dan ia pun menetap serta menikah. Karena daerah ini belum memiliki nama, maka diberi nama Kolam Kebayan yang merujuk sebuah sumur pemandian pengantin perempuan. Seiring berjalannya waktu, penyebutan nama Kolam Kebayan menjadi Kelumbayan.
Lantaran Tubagus Abdul Mutolib bisa melaksanakan tugasnya, ia pun melapor ke Kesultanan Banten. Saat itu diputuskan dan diizinkan untuk mendirikan kerajaan baru. Untuk penguatan, diberikan beberapa benda dari Kerajaan Banten untuk modal mendirikan kerajaaan Bandakhan Mahga berupa senjata perang dari mulai keris, tombak, baju besi, dan 15 meriam yang kini tersisa hanya lima meriam, perkakas, dan peralatan mandi, gong, gentong-gentong gerabah.
Sejak itulah Bandakhan Mahga Kelumbayan ada dan memiliki kewenangan mulai dari perbatasan Kelumbayan-Cukuh Balak, pesisir Pesawaran, sampai Pringsewu. Keberadaan Bandakhan Mahga Kelumbayan pun diakui pihak Skala Brak. "Akhirnya keturunan dari Tubagus Abdul Mutolib inilah yang mempertahankan Bandakhan Mahga Kelumbayan sampai ke Suntan Syahbandah Mahga ke-14 yang baru saja dikukuhkan," terang Ikrom.(tri yulianto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/berita-kelumbayan_20170313_223535.jpg)