Berita Video Tribun Lampung

(VIDEO) Jalan di Desa Way Galih Rusak Parah, Warga: Seperti Dianaktirikan

Bahkan ruas jalan utama sepanjang tiga kilometer yang menghubungkan Kota Bandar Lampung dan desa –desa tersebut tak ditemui jalan mulus.

Penulis: Romi Rinando | Editor: Reny Fitriani

Laporan Reporter Tribun Lampung Romi Rinando

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Jalan sekitar tiga kilometer di Desa Way Galih dan Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan  dalam keadaan rusak. Bahkan hampir semua jalan  lingkungan yang di huni sekitar 2.000 kepala keluarga  dengan 10 dusun  jarang mendapat perhatian pemerintah baik kabupaten maupun provinsi Lampung.

Bahkan sejumlah warga mengaku tak berdaya dengan kondisi jalan di kampung mereka,  yang lokasinya berdekatan dengan ruas jalan tol tersebut.

Pengamatan lapangan  kerusakan  ruas jalan –jalan  di kampung Way Galih dan Sabah Balau hampir merata. Bahkan  ruas jalan  utama sepanjang tiga kilometer  yang menghubungkan Kota Bandar Lampung dan desa –desa tersebut tak ditemui jalan mulus.

Ruas jalan utamanya  dipenuhi batu-batu, bahkan tak jarang banyak lubang, belum lagi jika menjelang malam, jalan yang sebagian masuk  areal perkebunan karet milik PTP IV terkesan seram. Padahal jalan tersebut  berdekatan dengan ruas jalan tol yang  terlihat sudah selesai.

 “Kita mau gimana lagi, disini jalannya jarang diaspal, , sudah beberapa kali ganti bupati, jalan kami gak pernah diaspal, paling aspal biasa aja, itu juga sudah sepuluh tahun lalu,” kata Yulius Supriyanto, warga dusun V Way Galih, Tanjung Bintang, ditemui, Selasa (28/3/2017).

Menurut pria yang akrab disapa Yuli ini, warga kampungya memang tidak pernah menuntut apa –apa, bahkan terkesan pasrah atas kondisi jalan-jalan di kampung mereka yang rusak. “Mau gimana, kami disini rata-rata buruh, gak ada orang besar yang tinggal disini, baru tahun wakil bupati  Lamsel orang sini,” jelas dia.

Pernyataan Yuli diperkuat dengan pengakuan kepala dusun V Way Galih Sugito yang mengakui,  jalan di kampung mereka  seperi dianaktirikan. “Ya mau gimana, namanya jalan kampung, seperti anak tiri, padahal kami ini dekat  dengan bandar lampung, warga disini sangat berharap ada perhatian, minimal setiap tahun ada ruas jalan di sini yang diaspal,” ungkap Sugito yang mengaku  lahir dan besar di desa tersebut, dan orangtuanya  sudah tinggal di sana sejak  1950 an.  (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved