Berita Video Tribun Lampung
(VIDEO) April 2017, Lampung Deflasi 0,21 Persen
Tiga kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi di Kota Bandar Lampung adalah bahan makanan sebesar 0,49 persen
Penulis: Ana Puspita Sari | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribun Lampung Ana Puspita
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Kota Bandar Lampung kembali mengalami deflasi sebesar 0,21 persen. Tiga kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi di Kota Bandar Lampung adalah bahan makanan sebesar 0,49 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,02 persen, dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan sebesar 0,01 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Yeane Irmaningrum menjelaskan, beberapa komoditi yang dominan memberikan andil deflasi diantaranya cabai merah. "Kemudian komoditi lainnya adalah bawang merah, cumi - cumi, jeruk, angkutan udara, cabai rawit, gula pasir, nangka muda, tongkol/ambu - ambu dan bayam," jelasnya pada rilis di BPS, Selasa (2/5) siang.
Deflasi terjadi di Bandar Lampung dua bulan belakangan tidak bisa dilepaskan dari harga komoditi yang mengalami perubahan secara signifikan. Contoh saja cabai merah, pada awal tahun sempat bergejolak dan naik hingga menyentuh angka Rp 100 ribu di beberapa daerah. Saat ini, harganya tengah menuju harga normal dari harga yang tinggi tersebut, sehingga harganya turun dan memberikan andil deflasi.
Beralih ke Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung pada April 2017 adalah sebesar 104,09 dengan sebagian besar subsektor mengalami kenaikan kecuali sektor hortikultura. Secara rinci, subsektor pertanian tanaman pangan mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen, subsektor hortikultura turun sebesar 0,55 persen. Subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 0,12 persen.
Kemudian, subsektor peternakan naik sebesar 0,83 persen, subsektor perikanan tangkap naik sebesar 1,36 persen dan subsektor perikanan budidaya naik sebesar 0,26 persen. Secara gabungan, NTP Provinsi Lampung naik sebesar 0,26 persen.
Selanjutnya mengenai pertumbuhan industri di Lampung. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang Lampung triwulan 1 tahun 2017 mengalami penurunan 21,94 persen dari triwulan IV tahun 2016. Juga mengalami penurunan sebesar 0,84 bila dibanding dengan triwulan yang sama di tahun 2016.
Sebaliknya, produksi industri manufaktur mikro dan kecil Lampung triwulan 1 tahun 2017 menunjukkan peningkatan 1,64 persen dibanding triwulan yang sama di tahun sebelumnya. "Kebanyakan industri kita adalah industri makanan. Contohnya, untuk gula di triwulan pertama biasanya tidak ada proses penggilingan sehingga terjadi penurunan," imbuh Yeane.
Poin lainnya adalah mengenai Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel dan akomodasi lainnya. TPK hotel berbintang di Bandar Lampung selama Maret 2017 mencapai posisi 54,05 persen, naik 6,31 poin dibanding Februari 2017 sebesar 47,74 persen. Sementara itu, TPK akomodasi lainnya di Maret 2017 tercatat 46,04 persen atau naik 1,29 poin dibanding Februari 2017 sebesar 44,75 persen. (ana)