Tertantang Kenalkan Budaya Lampung Lewat Museum yang Dianggap Kuno
Mendapatkan amanah mengomandoi UPTD Museum Negeri Lampung bukanlah perkara mudah. Butuh ketelatenan, ketekunan dan sederet inovasi
Penulis: heru prasetyo | Editor: soni
Laporan Reporter Tribun Lampung Heru Prasetyo
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Mendapatkan amanah mengomandoi UPTD Museum Negeri Lampung bukanlah perkara mudah. Butuh ketelatenan, ketekunan dan sederet inovasi untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke museum mempelajari sejarah dan budaya tanah kelahiran.
Hal ini memang menjadi tantangan tersendiri. Terlebih di era modern serba digital yang memaksa generasi muda lebih dekat dengan gawai dan sambungan internet untuk memuaskan dahaga informasi. Tak pelak, museum dipandang sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman untuk disambangi.
"Di situlah tantangannya. Bagaimana membuat masyarakat, generasi muda tertarik untuk belajar di museum," ungkap Zuraida. "Sebagai pengelola tentu kami harus mengemas sedemikian rupa agar peninggalan sejarah dan budaya ini tetap lestari dan diketahui anak cucu kita kelak," terang dia.
Perempuan kelahiran Terbanggi ini mengatakan, besar dan lahir di Lampung mau tidak mau membuat dirinya memiliki keterkaitan emosionil terhadap Museum Lampung. Pasalnya, ia pun menyadari bahwa modernisasi yang terjadi perlahan tapi pasti kian menjauhkan anak muda dengan jati diri dan asal muasal sejarah budaya mereka.
"Saya kan orang Lampung, jadi kalau ditanya seperti apa cinta saya kepada Lampung tentu sangat besar. Bagaimana menyalurkan cintanya, salah satunya memfasilitasi anak muda untuk kembali mengenal budaya dan sejarah Lampung via museum ini. Ini pengetahuan semua isinya," terang dia.
Berangkat dari hal tersebut, Zuraida berkomitmen memberikan terobosan menarik agar museum tidak dipandang sebagai sesuatu yang aneh. Sebaliknya, masyarakat harus melihat museum sebagai sumber pengetahuan yang harus digali lebih dalam.
Misal saja, satu fragmen tentang pernikahan adat Saibatin dan Pepadun yang ada di lantai dua museum. Ia mengatakan, mayoritas pengunjung hanya melihat sekilas tanpa tahu informasi yang terkait disana. Padahal, jika digali lebih jauh maka informasi seputar pernikahan, malam pertama, dan bagaimana prosesi pernikahan itu menarik untuk dipelajari.
"Sebagai bangsa yang besar, tentu kita harus mengetahui dan melestarik pengetahuan sejarah dan budaya kita," terang dia. "Oleh karena itu, kami berusaha untuk merangkul sekolah, perguruan tinggi untuk belajar bersama di museum. guide kami pun selalu siap untuk berbagi pengetahuan kepada pengunjung," jelas dia.
Di luar itu tentu saja, tidak elok jika mengaku orang Lampung dan cinta akan Lampung tanpa meninggalkan warisan untuk generasi selanjutnya. Bersama tim maupun secara pribadi, Zuraida pun rutin menulis dan menerbitkan buku tentang ragam budaya Lampung.
Budaya literasi ini ia tegaskan sangat penting dalam upaya menjaga kelestarian sejarah dan budaya Lampung. "Lewat buku nantinya anak muda akan membaca dan mempelajari sejarah tanah kelahirannya. Dan buku adalah seumber pengetahuan yang abadi," terang dia. (hru)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/zuraida-kherustika_20170503_120655.jpg)