Satu Keluarga dari AS Nekat Masuki Sarang ISIS di Mosul Demi Misi Ini

Pasalnya, pergerakan warga Mosul yang ingin keluar kota itu dihalangi para sniper militan ISIS.

Daily Mail
Keluarga gila asal AS nekat masuk Mosul dengan misi yang tak kalah gila. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Pertempuran sengit di kawasan Mosul, antara pasukan reguler Irak yang didukung AS melawan pasukan ISIS, terus berlangsung hingga kini.

Banyak penduduk Kota Mosul berusaha mengungsi keluar kota, untuk menghindari peperangan meski tidak mudah.

Pasalnya, pergerakan warga Mosul yang ingin keluar kota itu dihalangi para sniper militan ISIS.

Mereka menembak siapa saja warga Mosul, yang bermaksud meninggalkan kota.

Pasukan militan ISIS selama ini memang memanfaatkan penduduk sipil sebagai tameng, dari serangan udara yang dilancarkan jet-jet tempur AS.

Tetapi di tengah-tengah suasana Kota Mosul yang seperti neraka itu, satu kelurga dari AS, sepasang suami istri David dan Karen Eubank serta tiga anak remajanya, justru nekat memasuki Kota Mosul.

Tujuan utama keluarga dari AS itu sebenarnya cukup gila.

Mereka beniat membantu penduduk sipil yang luka-luka, dan memandu warga Mosul yang ingin melarikan diri.

David dan Karen memang bukan orang yang nekat tanpa modal.

David mantan pasukan khusus AS dan ahli medis, dan pernah bertugas dalam konflik militer di Burma, Sudan, dan perbatasan Turki-Irak untuk membantu pejuang suku Kurdi (Pesmerga).

Sedangkan, Karen adalah mantan guru profesional yang juga memahami persoalan medis.

Selama bertugas membantu warga Mosul yang terluka, Karen masih menyempatkan diri mengajar ketiga anaknya secara home schooling.

Ketiga anak Karen itu juga turut membantu warga Mosul yang luka-luka atau berniat melarikan diri dari Mosul, meskipun harus menghadapi risiko ditembak mati oleh para sniper ISIS.

Lokasi tempat keluarga David mendirikan pos kesehatan dan memandu warga Mosul untuk meninggalkan kota, juga rawan oleh sasaran pengeboman yang kerap dilancarkan jet-jet tempur AS.

Tetapi sebagai kepala keluarga, David yakin misi kemanusiaan yang sedang mereka laksanakan akan baik-baik saja.

David dan keluarganya menganggap misi itu sebagai “perintah Tuhan”.

David sebenarnya menyadari bahwa pekerjaannya yang penuh risiko itu, sangat berbahaya bagi ketiga anaknya.

Tetapi, ketiga anak David  itu ternyata merasa gembira dan baik-baik saja.

Sumber: Intisari Online
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved