Rumah Sakitnya Mengerikan Begini, Bukannya Sembuh Pasiennya Malah Bisa Tambah Parah
Rumah Sakitnya Mengerikan Begini, Bukannya Sembuh Pasiennya Malah Bisa Tambah Parah
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Rumah Sakitnya Mengerikan Begini, Bukannya Sembuh Pasiennya Malah Bisa Tambah Parah.
Pemandangan tak lazim di sebuah rumah sakit beredar luas di media sosial dan seketika menjadi viral.
Baca: Ngeri! Kena Herpes di Bibir, Gadis Ini Ungkap Kebiasaan Sepele yang Kerap Dilakukan Para Wanita
Pemandangan itu menunjukkan salah satu ruangan di rumah sakit yang kondisinya memprihatinkan.
Ruangan itu seperti ruangan operasi. Tapi terlihat horor karena kondisinya yang jorok dan serba kekurangan.
Tampak sebuah tempat tidur pasien yang lusuh, alat anestesi, tabung oksigen, alat penerangan, dan pengatur suhu (AC).
Sementara tembok ruangan terlihat berlumut seperti dampak rembesan air dari AC.
Foto ini diunggah ke media sosial facebook oleh Joko Hendarto pada 9 Oktober pukul 22.03.
Baca: Hobi Nonton Video Daleman Rok atau Perempuan Ganti Baju, Hantu Ini Akan Muncul TIba-tiba
Joko Hendarto diketahui salah seorang dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Foto yang diunggahnya tersebut langsung menyita perhatian publik, terlebih setelah membaca statusnya.
Baca: Wajahnya Muncul di Katalog Hotel Alexis, Artis Cantik Ini Buka-bukaan Soal Profesi Aslinya
Hingga Jumat (13/10/2017) pukul 01.15 Wita, unggahan tersebut telah dibagikan sebanyak 2.566 kali dan dikomentari lebih setengah juta orang.
Dari statusnya terungkap bahwa ruangan tersebut berada di sebuah rumah sakit di Provinsi Sulawesi Barat.
Selain fasilitasnya yang jorok dan lusuh, rumah sakit ini kabarnya juga kerap kehabisan bahan obat-obatan.
Berikut tulisan lengkap Joko Hendarto yang diunggah ke facebook.
Mempolisikan Dokter
Pasti ada yang bertanya dalam hati, ruangan apa ini? Foto ini saya ambil dari status teman sejawat tenaga medis dari Sulawesi Barat yang mencoba mengklarifikasi pemberitaan yang cenderung menyudutkan mereka. Ini adalah salah satu ruangan di rumah sakit mereka, setingkat rumah sakit Provinsi. Saya kurang tahu ruangan apa ini. Dengan dinding yang telah lumutan dan ranjang itu, yang saya tidak tahu apa itu seprei atau lakban hitam.
Sebuah berita di koran menyatakan, seorang pejabat tinggi di Provinsi itu mengancam mempolisikan mereka karena melakukan aksi mogok. Ya, mereka habis mogok, tidak akan melakukan pelayanan sebelum bahan habis pakai dan obat-obatan tersedia di rumah sakit itu. Mungkin juga perbaikan fasilitas seperti ini, sesuatu yang tak layak ada di sebuah ruangan dimana orang sakit akan dirawat, ditindaki dan diobati, lalu kondisinya seperti ini.
Saya kurang tahu kenapa terjadi kelangkaan obat dan bahan habis pakai di sana, juga fasilitas yang mengenaskan seperti ini. Ini mungkin pertanyaan balik yang harus ditanyakan pada bapak yang bernafsu sekali hendak mempolisikan dokter dan tenaga medis lainnya itu.
Menjadi dokter, perawat, bidan, apoteker, radiografer, laboran dan lainnya, memang kadang rumit. Bisa apa mereka jika sesuatu yang harusnya ada di rumah sakit tidak tersedia. Apa mau seorang pasien saat operasi, dijahit dengan sedikit benang untuk operasi dan selebihnya benang untuk menjahit karung saja karena benang operasinya tidak tersedia?
Di sisi lain, kita bisa paham protes masyarakat. Orang yang sakit tidak bisa tidak ditangani. Mereka tidak mau tahu apa persoalan di rumah sakit. Pokoknya saat mereka sakit, datang ke rumah sakit, mereka tahunya harus segera diobati. Titik.
Memang dibutuhkan kearifan menyelesaikan persoalan pelik seperti ini. Dokter, perawat, bidan, apoteker, radiografer, laboran adalah profesi yang baru bisa maksimal bekerja jika bahan, alat dan fasilitas yang mereka butuhkan tersedia dengan memadai. Jika tidak, pekerjaan mereka justeru beresiko, baik bagi mereka sendiri, dan terutama bagi pasien. Profesi-profesi di atas, maaf jika saya katakan tidak sama dengan dukun yang cukup ada air putih dan jampi-jampi, lalu selesai.
Semoga masalah di Sulawesi Barat bisa segera selesai dengan baik, semua pihak berbahagia. Para petingginya, tenaga medisnya dan juga masyarakatnya bisa menahan diri dan bersama mencari solusi terbaik. Tidak lalu muncul fenomena membentur-benturkan tenaga medis dengan masyarakat misalnya. Mudah-mudahan juga statemen emosional semacam akan mempolisikan dokter itu tidak serius, karena jika iya, saya kira kawan-kawan dokter, perawat, bidan, apoteker, radiografer, laboran dan lainnya di sana tidaklah sendiri. Kita akan bersama mereka.
#Kanazawa, 171009
(Bagi yang ingin menge-share, tidak usah minta ijin ya. Orang-orang di luar sana perlu diperlihatkan juga kondisi sebenarnya di lapangan, agar mereka punya perspektif yang lain. Semoga ini bisa jadi pelajaran bagi para direktur rumah sakit dan petinggi pemerintahan di tempat yang lain.)
Netizen yang melihat unggahan ini langsung tersulut emosi.
Kha Wahyu: Horor! Pasien bisa mati bukan karena penyakitnya tp karena ketakutan.
Anas Asdar: Aslinyami ini rumah sakit. Biar orang sehat kalau masukmi di ruangan ini langsungmi sakit...
Luqman Andalangg: Ini seharusnya tanggung jawab pemerintah yg seharusnya melengkapi sarana dan prasarananya....namanya juga RS.PROVINSI.
Wanty TeTtaph Wanty: Orng sakit ke RS pengen smbuh, tp klo ruangan RS nya sprti ini mlah bkin orng tmbah skit..
Faiesal Sachrir Kanro: Pmrntah sllu mndengung2kan bhwa kesehatan dan pendidikan adlh prioritas program yg hrus djlnkn sbg ujung tombak pmbngunan negeri ini, tp pd knyataanx brbanding trbalik, jgnkn sarana dan prasarana, nakes dan tenaga honorer guru gajinya sngat miris, jauh dr standar umr.,
Dalam kolom komentar, Joko Hendarto juga mengungkapkan bahwa foto itu hanya sebagian kecil dari potret buram rumah sakit tersebut.
Masih banyak fasilitas lainnya yang sangat mengenaskan.
Salah seorang dokter bernama Mia Hamsiah yang bekerja di rumah sakit tersebut itu pun menceritakan bahwa hampir dua tahun mereka menyuplai bahan sendiri untuk kebutuhan di poli.
Bahan-bahan medis tersebut dibeli pakai uang sendiri, hasil kumpul-kumpul dengan rekan sejawat.
"alat rusak kami perbaiki sendiri, krn klo cm minta biasax cm dijanji2. Cm setelah sadar..(setelah dua tahun lho) koq bgini2 terus ya. Akhirx kapok jg,"
"Urusan dinding itu, cuma perbaiki ac cat kembali sdh selesai masalah. Itu masalah kecil sj"
"Itu demi menghidupkan poli kami. Karena kasihan dgn pasien, apalagi klo dr jauh. Tapi masa iya seumur hidup mau seperti itu," demikian komentarnya.
Usut punya usut, para dokter dan perawat di rumah sakit tersebut sudah pernah melakukan aksi mogok.
Mogok bukan karena menuntut kesejahteraan atau menghindari pasien, tapi semata-mata karena banyaknya sarana prasarana di rumah sakit tersebut yang tidak sesuai standar.
Apabila pelayanan tetap dilanjutkan dengan kondisi yang serba terbatas, maka juga bisa membahayakan keselamatan pasien.
Dikutip dari nuansainfo.com, aksi mogok dokter di RS Regional Sulbar terjadi pada Jumat (6/10/2017).
Melalui surat pernyataannya, para dokter terpaksa menghentikan pelayanan kepada pasien karena obat-obatan, bahan habis pakai (BHP), fasilitas penunjang (laboratorium, radiologi, dan alat serta prasarana ruang operasi) tidak tersedia di rumah sakit ibu kota provinsi tersebut.
Dalam tuntutannya para dokter juga mendesak agar Direktur RS Regional Sulbar segera mengundurkan diri karena dianggap gagal dalam mengelola rumah sakit.
"Yang kami angkat tentang kondisi rumah sakit yang tidak standar. Kami sudah capek meminta dan tak pernah tersedia. Dan ini berisiko bagi profesi teman (dokter). Pengobatan punya SOP, kalau tidak sesuai alur maka kami bisa kena malpraktik," kata Komite Medik RS Regional Sulbar, dr Phandi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/kondisi-ruangan-rumah-sakit-yang-mengerikan_20171104_211014.jpg)