Berita Video Tribun Lampung

(VIDEO) Pempek Crispy Mas Boy, Manjakan Lidah Para Penjelajah Rasa

(VIDEO) Pempek Crispy Mas Boy, Manjakan Lidah Para Penjelajah Rasa . . . . . . .. .

Tayang:
Penulis: dennish prasetya | Editor: soni

Laporan Reporter Tribun Lampung Dennish Prasetya

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pempek Crispy Mas Boy, Manjakan Lidah Para Penjelajah Rasa

Kuliner khas Palembang empek-empek,  atau juga dikenal dengan sebutan pempek sungguh lezat disantap sebagai pelengkap menu cemilan.

Beraneka ragam jenis pempek dapat memanjakan lidah para penjelajah rasa, mulai dari pempek keriting, adaan, kulit, lenjer, pistel, telok, dos, hingga kapal selam, dan pempek panggang. Dari beragam jenis itu, salah satu yang sedang tren saat ini adalah pempek kulit.

Baca: Debat Seru Abu Janda Al Boliwudi Vs Felix Siauw tentang Bendera, Lihat Siapa yang Terpojok

Meski sudah lama dikenal masyarakat, tetapi kreasi baru muncul sejak beberapa tahun terakhir, yakni pempek kulit crispy dan pempek kulit crispy gunting. Bentuknya yang pipih, berwarna khas kulit ikan, dan bertekstur renyah dipastikan akan mengundang selera.

Apalagi disajikan dengan cuka (sejenis saos) yang terbuat dari gula merah dicampur perasan air asam jawa, bawang puting, dan cabai rawit. Sebagai pemanisnya, biasanya juga diberikan potongan dadu mentimun.

Baca: Inikah Penyebab Selena Gomez Kunci Akun Instagramnya?

Salah satunya pempek Mas Boy ada di Jalan Urip Sumoharjo Way Halim Bandar Lampung tepatnya di Lampung Walk

M Boy Ismail, pemilik kedai pempek mas Boy" membagi resep meracik pempek kulit crispy. Untuk bahan bakunya, ia mengungkapkan cukup menyediakan 250 gram daging merah ikan tenggiri yang sudah digiling atau dapat juga diganti dengan 125 gram daging kulit ikan tenggiri dicampur dengan 125 gram daging ikan jenis lain.

Selama musim libur ini, ia meraup cukup banyak keuntungan dari penjualan pempek kulit crispy dengan harga satuan Rp 4.000/buah Dalam satu hari, kedai pempeknya bisa laku sekitar 100 buah pempek crispy.

Menyantap pempek memiliki kekhasan tersendiri karena makanan berbahan ikan ini selalu disajikan dengan cuka atau lazin disebut "cuko".

 Cuko terbuat dari air gula merah yang dididihkan kemudian diberikan bumbu campuran bawang putih, garam, air asam, dan cabai hijau dengan komposisi yang sesuai.

 Sejarah Pempek Berdasarkan catatan Wikipedia, pempek ada di Palembang diperkirakan mulai masuknya perantau Tiongkok ke Palembang, yaitu sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Kesultanan Palembang-Darussalam.

Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan "apek", yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan China, sedangkan "koh", yaitu sebutan untuk lelaki muda keturunan Tiongkok.

Berdasarkan cerita rakyat, pada sekitar 1617 seorang "apek" berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik.

Ikan hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain dengan mencampur daging ikan giling dan tepung tapioka.

 Makanan ini kemudian dijajakan oleh para "apek" dengan bersepeda keliling kota sehingga warga memanggil penjualnya dengan sebutan "pek-apek".

Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16. Selain itu, velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18.

 Walaupun begitu sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Tiongkok, seperti bakso ikan, kekian, ataupun ngohyang. Pada awalnya, pempek dibuat dari ikan belida.

Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved