Pilgub Lampung, Nama Nunik Sudah Mencuat Sejak Maret 2017
Selain pasangan Herman HN-Sutono, nama lain yang sudah diprediksi keikutsertaannya dalam pilgub adalah Chusnunia alias Nunik.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Selain pasangan Herman HN-Sutono, nama lain yang sudah diprediksi keikutsertaannya dalam Pilgub Lampung 2018 adalah Chusnunia alias Nunik, bupati Lampung Timur. Nama Nunik telah mencuat nyaris setahun yang lalu, tepatnya sejak Maret 2017.
Tribun melalui koran edisi 21 Maret 2017 bahkan menurunkan berita liputan khusus soal munculnya nama Nunik dalam bursa pencalonan Pilgub Lampung 2018. Saat itu, Tribun mencoba mengulas siapa tokoh perempuan yang berpotensi mewarnai bursa bakal calon gubernur maupun wakil gubernur.
Inventarisasi tokoh perempuan dimulai dari tiga perempuan yang menduduki kursi eksekutif. Selain Nunik yang menjabat bupati Lampung Timur, ada nama Wakil Bupati Pesisir Barat Erlina dan Bupati terpilih Tulangbawang Winarti.
Ketika diwawancarai, Senin (20/3/2017) malam, Nunik mengaku belum berminat maju Pilgub Lampung 2018. Nunik, yang kini menjadi bakal calon wakil gubernur mendampingi bakal calon gubernur Arinal Djunaidi, menyatakan masih akan fokus sebagai bupati Lampung Timur yang baru setahun berjalan.
"Pertama, amanah menjalankan tugas sebagai bupati menjadi pertimbangan utama. Pilgub Lampung kan tahun 2018. Saya baru jadi bupati setahun," ujar Nunik saat dihubungi melalui ponsel ketika itu.
Nunik mengakui ada beberapa pihak yang menanyainya soal peluang maju Pilgub Lampung 2018. Namun, ia tidak terlalu menanggapi karena merasa masih harus menuntaskan banyak persoalan di Lampung Timur.
"Masih banyak hal yang harus saya tuntaskan. Memang ada beberapa yang bercanda-bercanda, 'Nggak maju, Mbak? Nggak maju, Mbak'," kata mantan anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa ini.
Terkaitnya belum terdengarnya bakal calon gubernur maupun wakil gubernur dari kalangan perempuan, bagi Nunik, bukan karena Lampung kekurangan politisi perempuan. Menurutnya, ada dua faktor yang menyebabkan hal itu. Pertama, perempuan belum berani menyatakan maju lantaran luasnya jangkauan Provinsi Lampung. Kedua, kesempatan dari partai politik itu sendiri.
"Memang partai-partai belum tertarik untuk 'senggol-senggol' bakal calon perempuan. Partai-partai mungkin belum percaya untuk tataran pilgub. Politisi perempuan sebenarnya banyak. Tapi untuk maju pilgub dengan Lampung yang begitu luas, membuat berpikir ulang untuk maju," jelasnya.
Nunik pun menyebut beberapa tokoh perempuan Lampung yang sebenarnya layak maju Pilgub Lampung 2018. Di antaranya adalah anggota DPR RI dan anggota DPRD Lampung.
"Di DPR RI, ada Mbak Ismayatun dari PDI Perjuangan. Ada Mbak Aroem (Dwie Aroem Hadiyatie) dari Partai Golkar. Ada Ibu (Dwita) Ria Gunadi dari Partai Gerindra. Layaklah saya kira," ujar Nunik.
Ismayatun sempat menyatakan siap maju jika partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, memang memberikan instruksi. Ia menyatakan hal ini menanggapi pertanyaan wartawan usai menghadiri acara peresmian Layanan Kas Titipan Bank Indonesia, di kantor Bank Rakyat Indonesia, akhir pekan lalu.
"Kalau ada yang support, saya akan maju. Kalau tidak, ya tidak bisa," kata Ismayatun yang duduk sebagai anggota Komisi XI DPR RI ini.
Patrilineal Masih Kental
Terkait peluang perempuan dalam kontestasi pilkada, menurut dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung Roby Cahyadi saat itu, politik patrilineal memang masih kental di Indonesia. Terbukti dengan masih minimnya sosok perempuan yang muncul dalam bursa bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah, termasuk Pilgub Lampung 2018.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/bupati-nunik-dan-gajah-si-iren_20170320_223607.jpg)