Generasi Petani Terancam Punah, Ini Penyebabnya
Kondisi tersebut diperparah dengan semakin kurangnya minat generasi muda dalam menekuni kegiatan bercocok tanam.
Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono | Editor: Daniel Tri Hardanto
Laporan Reporter Tribun Lampung Robertus Didik Budiawan
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Sejumlah pemuda di Kabupaten Pringsewu didorong untuk mencintai dunia pertanian. Sebab, pelaku tani kian lama kian menurun jumlahnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan semakin kurangnya minat generasi muda dalam menekuni kegiatan bercocok tanam.
Baca: YBM BRI Resmikan Program Bantuan kepada Petani Sayur Mayur di Metro
Berdasarkan data sensus pertanian Badan Pusat Statistik 2013, Sales and Marketing Director East West Seed Indonesia (Ewindo) Afrizal Gindow mengungkapkan, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia tercatat 26,14 juta rumah tangga.
Jumlah tersebut menurun drastis selama 10 tahun terakhir hingga 16,32 persen.
"Dilihat dari sisi usia, dari 26,14 juta petani yang terdata, sebanyak 60,8 persen petani di Indonesia sudah melewati usia produktif," ujarnya di Pekon Srikaton, Kecamatan Adiluwih, Selasa (9/1).
Baca: Usai Cari Durian Bocah Pringsewu Jatuh di Embung, Nasibnya tak Disangka
Rentang usia melewati masa produktif itu, menurut Afrizal, antara 45-65 tahun ke atas sebanyak 15,88 juta orang.
Apalagi, sambung dia, dilihat dari sisi pendidikannya, sebesar 73,97 persennya hanya mengenyam pendidikan sampai SD. Ia menilai, kondisi tersebut diprediksi sulit untuk bersaing dalam strategi bertani gaya modern.
Sementara, petani muda dengan rentang usia 19-44 tahun terdiri dari 10,24 juta orang atau hanya mencapai 39,2 persen. Jumlah ini terus menyusut hingga 5 juta orang dalam kurun 2003-2013.
Afrizal meyakini faktor penyebab menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, antara lain, karena citra sektor pertanian yang kurang bergengsi.
Selain itu, berisiko tinggi karena perubahan iklim, lahan pertanian yang semakin sempit, belum adanya kebijakan insentif khususnya untuk petani muda atau pemula.
Faktor terbesar yang mengakibatkan banyak petani beralih pekerjaan adalah rendahnya pendapatan petani akibat permainan para tengkulak.
Oleh karena itulah, pihaknya melakukan pembinaan terhadap petani muda di bawah usia 35 tahun dengan membentuk organisasi Petani Muda Panah Merah (PMPM).
Sebanyak 110 orang dikukuhkan sebagai anggota PMPM di Pekon Sri Katon Kecamatan Adiluwih, Pringsewu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ewindo_20180109_213015.jpg)