Pilgub Lampung 2018

Cagub Kampanye di Medsos, Omzet Percetakan Pembuat APK Turun 50%

Penggunaan media sosial (medsos) untuk kampanye berimbas pada penurunan omzet sejumlah perusahaan percetakan di Lampung

Tayang:
Penulis: Noval Andriansyah | Editor: Ridwan Hardiansyah
Instagram
Meme para Cagub Lampung bertemakan Film Dilan 1990 yang tersebar di Instagram. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Noval Andriansyah

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Penggunaan media sosial (medsos) untuk kampanye berimbas pada penurunan omzet sejumlah perusahaan percetakan di Lampung, yang biasa kebanjiran pesanan pembuatan alat peraga kampanye (APK) saat pilkada.

Karyawan CV Silang Multimedia, Andri (34) mengatakan, penurunan omzet bahkan mencapai 50 persen selama gelaran Pilgub Lampung 2018, dibanding pada pilkada serentak tahun lalu.

“Sekarang sepi pesanan. Beda banget dengan tahun kemaren,” kata Andri, Sabtu (31/3/2018).

Menurut Andri, penggunaan medsos merupakan satu di antara faktor penyebab penurunan.

Baca: Pilgub Lampung 2018, Dilan 1990 Dibuat Jadi Meme 4 Cagub

Sebab, pasangan calon (paslon) lebih memilih berkampanye melalui medsos dibanding memesan APK.

“Tahun kemarin itu, masih banyak pesanan banner, baliho, spanduk. Sekarang, kampanyenya lewat Instagram sama Facebook. Jadi, pesanan (APK) sedikit sekali,” ujar Andri.

Selain itu, Andri mengatakan, paslon juga lebih memilih memesan APK dari perusahaan di luar Lampung.

“Dari Jakarta sama Bandung. Tidak menggunakan jasa lokal. Saya juga tidak tahu kenapa,” terang Andri.

Kampanye paslon pada Pilgub Lampung 2018 turut ramai di medsos.

Di Instagram, sejumlah meme paslon pun tampak bertebaran.

Pada kampanye menggunakan medsos, para tim paslon mengaku menyasar anak muda.

Pemilik CV Anugerah Warna, Rasmin (41) pun membenarkan bahwa perusahaannya mengalami penurunan omzet saat Pilgub Lampung 2018.

Padahal biasanya, pendapatan perusahaannya bisa meningkat saat gelaran pemilu.

“Memang sekarang ini, paslon-paslon pesan APK di luar Lampung. Teman saya yang mau ikut tender KPU juga tidak jadi karena telat. Katanya, sudah ada yang ambil (menang tender) dari Jakarta,” ungkap Rasmin.

Penurunan pesanan, Rasmin menerangkan, juga terjadi lantaran APK tidak lagi menjadi andalan dalam kampanye, sebagaimana pemilu-pemilu tahun sebelumnya.

Satu di antaranya karena medsos yang kian berkembang.

“Medsos juga memberi pengaruh. Karena sekarang, banyak yang kampanye lewat medsos,” ucap Rasmin.

Dengan kondisi tersebut, Rasmin mengaku pasrah.

“Kalau dulu, kami memang ngotot kejar calon-calon biar pesan APK ke kami. Sekarang, legawa saja,” kata Rasmin.

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved