Hujan Meteor Bisa Disaksikan di Lampung, Tapi Ada Syaratnya
Fenomena alam tahunan hujan meteor Lyrid ternyata bisa disaksikan langsung di wilayah Lampung.
Penulis: hanif mustafa | Editor: soni
Laporan Reporter Tribun Lampung Hanif Mustafa
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Fenomena alam tahunan hujan meteor Lyrid ternyata bisa disaksikan langsung di wilayah Lampung. Bahkan Lampung menjadi salah satu tempat yang potensial untuk melihat fenomena ini.
Dosen Sains Atmosfer dan Keplanetan Institut Teknologi Lampung (ITERA) Robiatul Muztaba mengatakan fenomena alam tahunan hujan meteor Lyrid bisa disaksikan di seluruh wilayah di Indonesia.
Baca: Terlibat Sindikat Kejahatan Seksual, Artis Cantik Hollywood Allison Mack Ditangkap
"Bukan hanya Lampung, tapi seluruh wilayah di Indonesia dengan syarat langitnya tanpa mengalami gangguan polusi cahaya dan saat langit cerah tidak berawan. Tetapi Lampung menjadi salah satu tempat yang potensial untuk melihat fenomena ini," ujar pria yang akrab disapa Aji, Minggu 22 April 2018.
Menurut Aji, Lampung bisa menjadi potensial karena masih minim akan polusi cahaya, berbeda dengan kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang polusinya cukup tinggi.
Baca: Dua Tokoh Ternama Lampung Daftar DPD RI
"Jadi masyarakat Lampung bisa ikut menikmatinya, dan masyarakat bisa langsung melihat dengan mata dimana saja. Menariknya selain hujan meteor lyrid diwaktu yg sama kita juga bisa melihat planet mars, planet jupiter dan planet saturnus, serta satelit alami dari masing-masing planet tersebut, dengan catatan menggunakan teleskop untuk melihat satelit tersebut," tuturnya.
Lanjut Aji, Unit Pelaksana Teknis Observatorium Astronomi ITERA Lampung (UPT OAIL) yang saat ini masih berpusat di ITERA ternyata juga membuat kegiatan nonton bareng hujan meteor lyrid.
"Kebetualan OAIL juga mengadakan nonton bareng fenomena hujan meteor lyrid, biar masyarakat juga bisa menikmati bersama, akan diadakan besok, 23 April 2018, pukul 19.30 - 00.00 wib," tukas dosen muda ini.
Terkait terbentuknya fenomena tersebut, Aji menjelaskan jika hujan meteor lyrid berasal dari serpihan ekor atau ekor debu dari Komet Thatcher C/1861G1.
"Komet ini memiliki periode yang panjang atau cukup lama untuk mengelilingi orbitnya yaitu setiap 415 tahun, untuk komet ini sendiri baru bisa kita lihat sekitar tahun 2276, kalau saat ini kita hanya bisa melihat fenonena hujan meteornya saja akibat serpihan dari ekor komet tersebut," jelasnya.
Masih kata dia, hujan meteor lyrid ini fenomena tahunan yang bisa dilihat sekitar bulan April.
"Biasanya sudah mulai terlihat sekitar tanggal 15 sampai 25 April, tapi puncak hujan meteornya rata-rata dari tahun ke tahun sekitar tanggal 22 hingga 23 April, kalau untuk tahun ini masyarakat bisa menikmati mulai pukul 10 malam hingga menjelang fajar, rata-rata akan terlihat 10-20 meteor per jam," tutupnya.