Pengambilan Api Waisak, Pesan Kedamaian yang Menyirnakan Kegelapan

Puluhan umat Buddha menggelar ritual pengambilan api Dharma Tri Suci Waisak 2018 atau 2562 BE di Api Abadi Mrapen di Grobogan.

Tayang:
Editor: Yoso Muliawan
Puthut Dwi Putranto Nugroho/Kompas.com
Umat Buddha melakuan ritual pengambilan Api Dharma Waisak di obyek wisata Api Abadi Mrapen, Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (9/5/2017). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Puluhan umat Buddha menggelar ritual pengambilan api Dharma Tri Suci Waisak 2018 atau 2562 BE di kawasan obyek wisata Api Abadi Mrapen di Grobogan, Jawa Tengah, Minggu (27/5/2018).

Umat Buddha yang mengenakan pakaian serba putih dan jubah oranye khas biksu itu berdoa di depan altar Buddha. Suara lantunan doa terus menggema berjam-jam hingga puncak acara pengambilan api.

Usai berdoa, perwakilan umat Buddha yang telah membawa obor beranjak menuju titik lokasi Api Abadi Mrapen. Mereka secara bersamaan menyulutkan obor ke pusat sumber api yang telah berkobar.

Usai obor berkobar, perwakilan biksu berjalan naik ke atas bak mobil pick up untuk menyulutkan obornya ke tungku. Di atas mobil telah siap sebuah tungku untuk menampung api dari Api Abadi Mrapen.

Menumpang pick up, api yang berkobar di tungku itu akan disemayamkan di Candi Mendut. Keesokan harinya, api akan diantarkan ke Candi Borobudur sebagai sarana peribadatan perayaan Waisak yang jatuh pada Selasa (29/5/2018).

Rombongan umat Buddha yang sebelumnya tiba di obyek wisata Api Abadi Mrapen menumpang beberapa kendaraan roda empat, lalu mengawal perjalanan percikan Api Abadi Mrapen itu ke arah Magelang.

Prosesi pengambilan api secara estafet ini berlangsung kondusif selama bertahun-tahun.

Warga, TNI dan kepolisian terus bersinergi mengawal ritual pengambilan Api Waisak di obyek wisata kebanggaan warga Grobogan tersebut. Mereka berbaur dan bersiaga di sejumlah lokasi.

Menyirnakan kegelapan Api Abadi Mrapen merupakan fenomena alam, di mana gas alam yang keluar dari perut bumi tersulut oleh api yang hingga saat ini tak pernah padam.

Selain diistimewakan sebagai bagian dari Tri Suci Waisak, keberadaan Api Abadi Mrapen juga difungsikan untuk penyulutan api dalam pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Ketua DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jawa Tengah David Herman Jaya menjelaskan, dalam ritual pengambilan Api Dhamma Tri Suci Waisak, pihaknya memanjatkan doa untuk keselamatan dan kedamaian seluruh umat manusia. 

Momen yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan ini juga dimanfaatkan umat Buddha untuk saling mendoakan. Setidaknya, mereka berharap toleransi antarumat beragama bisa terus terjalin baik hingga akhir zaman.

Api, menurut David, merupakan perwujudan kesucian yang diharapkan bisa menyirnakan kegelapan melalui penerangan cahaya.

"Api membawa cahaya dan harapan, sekalipun di tempat yang paling gelap. Api Abadi Mrapen yang tak kunjung padam meninggalkan pesan yang baik bagi kita semua," jelas David.

"Seperti ajaran Buddha yang mengharuskan kami untuk terus berbuat baik, menjauhi sifat jahat, dan menyucikan pikiran. Kegelapan akan sirna dengan api," imbuhnya.

"Kami berharap seluruh manusia hidup damai dan sejahtera. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Karena Tuhan itu satu, dan semua agama mengajarkan kebaikan dan kasih sayang," tutur David.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengambilan Api Waisak, Pesan Kedamaian yang Menyirnakan Kegelapan".

(Penulis: Puthut Dwi Putranto Nugroho/Editor: Gita Laras Widyaningrum)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved