Pilgub Lampung 2018 - Beda Lembaga, Beda Hasil Survei

Pilgub Lampung 2018 - Beda Lembaga: SMRC, Charta Politika, Rakata Institute, dan Lesla, Beda Hasil Survei

Tayang:
Editor: taryono
tribunlampung/dodi
Pilgub Lampung (ilustrasi) 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - EMPAT pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang bertarung dalam Pilgub Lampung 2018 masing-masing unggul dalam sejumlah survei.

Menariknya, beda lembaga maka beda pula hasil survei.

Pasangan nomor urut 2, Herman HN-Sutono, meraih elektabilitas tertinggi sesuai hasil survei yang digelar oleh Lembaga Survei Lampung (Lesla), yang hasilnya dirilis di Hotel Horison, Bandar Lampung, Jumat (22/6).

Survei itu menurut lembaga ini digelar sejak Februari sampai Juni 2018.

Pasangan nomor urut 3, Arinal-Ninik, menempati elektabilitas tertinggi sesuai hasil survei Rakata Institute yang digelar selama 2-7 April 2018.

Survei Kuadran pada Februari 2018 juga menempatkan Arinal-Nunik di posisi teratas.

Pasangan nomor urut 2, Ridho Ficardo-Bachtiar Basri, unggul dalam survei yang digelar oleh lembaga survei nasional, Charta Politika, yang dilaksanakan 6-11 Maret 2018.

Lembaga survei nasional SMRC yang merilis hasil surveinya pada Maret 2018, juga menempatkan Ridho-Bachtiar sebagai peraih elektabilitas tertinggi.

Adapun pasangan nomor urut 4, Mustafa-Jajuli, memenangi survei yang digelar oleh Rakata Institute, dengan pelaksanaan survei 30 November-4 Desember 2017.

Survei yang dirilis Lesla pada Jumat kemarin, yang menempatkan pasangan Herman HN-Sutono meraih elektabilitas jauh di atas pasangan lain, memantik kecurigaan dari tim pemenangan pasangan lain.

Kredibilitas lembaga ini juga dipertanyakan.

Survei itu menyebutkan, elektabilitas Herman-Sutono 41,84 persen, Ridho Ficardo-Bachtiar Basri 29,42 persen, Arinal- Nunik 19,53 persen, dan Mustafa-Jajuli 5,73 persen.

Levi Tuzaidi, liason officer (LO) paslon Ridho-Bachtiar, menilai survei tersebut cenderung menggiring opini publik.

"Mengapa baru sekarang dirilis, cukup janggal saja," katanya.

Levi optimistis hasil survei Lesla tidak akan memengaruhi suara paslon nomor urut 1 di Pilgub 27 Juni.

"Kita tidak akan berpengaruh, dan tetap yakin dengan kerja kita," ujarnya.

Cawagub nomor urut 2, Sutono, mengaku bersyukur atas hasil survei Lesla tersebut.

"Alhamdulillah, tapi kami tidak akan terlena dengan hasil survei itu. Karena tetap fokus kerja, konsolidasi menemui masyarakat," katanya.

Adapun tim paslon nomor 3, Arinal Djunaidi-Chusnunia belum berkomentar.

Ketua Tim Pemenangan, Tony Eka Chandra, dan LO paslon nomor urut 3, Yuhadi tidak memberi respons saat dihubungi Tribun.

Sementara Sidiq Effendi, LO paslon nomor 4 Mustafa-Ahmad Jajuli, mengaku tidak mau terjebak dengan hasil survei yang dirilis Lesla. Ia pun mempertanyakan kredibilitas lembaga tersebut.

"Kita tidak mau terjebak dengan hasil survei itu, karena bisa saja hasilnya cenderung menggiring opini publik," kata Sidiq.

Pemilih Galau

Hasil survei Lesla menunjukan angka massa mengambang yang masih cukup tinggi. Pemilih "galau" masih sangat tinggi, mencapai 75,41 persen.

Pemilih "galau" yang masih mungkin mengubah pilihannya tersebut, tersebar dalam beberapa kategori.

Kategori sangat besar kemungkinan pemilih mengubah pilihan sebesar 5,56%. Sedangkan besar kemungkinan mengubah pilihan 25,23 persen, dan kecil kemungkinan mengubah pilihan 44,62 persen.

Sedangkan kategori tidak mungkin mengalihkan dukungan 24,56 persen, dan responden tidak menjawab 0,03 persen.

"Persentase mereka yang bisa mengubah pilihannya masih menunggu atau berharap ada kiriman kerohiman, makanan, sarung, dan lainnya. Ini termasuk massa mengambang yang harus direbut oleh calon," kata Direktur Lesla, Ahmad Yulden Erwin, Jumat siang.

"Angka tersebut menunjukkan kegagalan pendidikan politik di Lampung," imbuhnya.

Ahmad menuturkan, survei dilaksanakan dengan pengumpulan data wawancara tatap muka.

Responden berusia minimum 17 tahun atau yang sudah memenuhi syarat sebagai pemilih.

Survei menggunakan model penelitian sosial (sosial research) dengan teknik wawancara langsung.

Penelitian ini mengambil langsung data primer dari responden dengan memanfaatkan data sekunder dalam menentukan sampel.

"Metodologi penentuan sampel menggunakan multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan sebesar 97 persen dan sampling error sebesar 3 persen," ujarnya.

Mengenai dana survei, diakui Ahmad sangat besar.

Ia membayar para surveyor dengan dana yang bersumber dari sponsor.

"Tapi tak bisa disebutkan nama dan kedudukannya. Semua survei ada yang membiayai. Mereka adalah yang berkepentingan, bisa partai, calon, atau investor swasta yang mendukung salah satu calon. Saya hanya melaporkan ini (sumber dana) ke KPU," katanya.(ben/rri)

Sumber: Tribun Lampung
Tags
survei
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved