3 Bulan Kesulitan Dapatkan Air Bersih, Warga Way Halim Senang Dibantu BPBD
Suhartono (65), warga Gang Satria, Jalan Raden Pemuka, bersyukur mendapat pasokan air bersih dari BPBD.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bandar Lampung mulai mendistribusikan air bersih kepada warga yang mengalami kekeringan air.
Kamis (23/8), petugas BPBD menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki kepada warga Jalan Raden Pemuka, Gang Satria, Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Bandar Lampung M Rizki mengimbau warga yang membutuhkan air bersih tak ragu-ragu meminta bantuan ke BPBD melalui aparat RT. "Nanti lura atau camat yang akan menginformasikan kepada BPBD. Semuanya gratis tanpa biaya," katanya.
Suhartono (65), warga Gang Satria, Jalan Raden Pemuka, bersyukur mendapat pasokan air bersih dari BPBD. Ia dan keluarga sudah tiga bulan terakhir sulit memperoleh air.
Baca: 1 Bulan Kekurangan Air Bersih, Pemkab Dituding Kurang Perhatikan Warga Desa Klawi
"Saya ambil air bersih yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah. Itu pun saya dan lainnya harus bayar Rp 6 ribu untuk listrik dari setiap 20 jeriken air yang kami ambil," tuturnya.
Tarif air, menurut Suhartono, menjadi berbeda jika warga meminta air bersih diantara ke rumah. Untuk pengantaran setiap 20 jeriken air, warga dikenakan biaya Rp 20 ribu.
"Saya selalu ambil sendiri air bersihnya, walaupun sudah tua. Air sangat vital," ujarnya.
Dalam pemberitaan Tribun Lampung awal Agustus, warga di beberapa tempat di Bandar Lampung mulai merasakan kekeringan air sebagai dampak musim kemarau. Sebagian di antaranya terpaksa membeli air galon, khususnya untuk keperluan memasak.
Baca: Masrina Senang Dapat Bantuan Air Bersih: Hampir Sebulan Sumur Kering
Dari hasil penelusuran, warga yang mengalami kekeringan air antara lain di Perumahan Bukit Kemiling Permai, Kecamatan Kemiling, dan Kelurahan Gunung Terang, Kecamatan Langkapura. Warga kesulitan mendapatkan air besih untuk keperluan mandi, mencuci, memasak, dan lainnya.
Daria, warga Blok X Perumahan BKP, mengaku hanya bisa sesekali menggunakan air dari sumurnya, itu pun dalam jumlah sedikit. Ia harus menunggu 2-3 jam sebelum bisa mengambil air lagi dari sumur menggunakan mesin air.
Untuk keperluan minum, memasak, dan lainnya, Daria terpaksa membeli air galon sebanyak 7-8 galon setiap dua pekan. "Beli bisa sampai delapan galon untuk dua minggu. Harganya Rp 6.000 per galon. Kalau enggak gitu, minum, masak, bahkan kasih minum dan mandikan hewan peliharaan jadi terbengkalai," tuturnya. (*)