Kata Eksportir Lada Lampung soal Melemahnya Rupiah
Produksinya juga harus benar. Produktivitasnya jangan rendah lagi. Jangan karena (harga) turun, kita ikut turun, ya habis jadinya.
Penulis: Noval Andriansyah | Editor: Daniel Tri Hardanto
Laporan Reporter Tribun Lampung Noval Andriansyah
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Ketua Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI) Lampung Sumita mengaku, menguatnya kurs dolar AS terhadap rupiah tidak berpengaruh apa-apa.
Hal tersebut karena kurs negara pesaing juga ikut turun.
“Sebenarnya tidak berpengaruh banyak. Justru malah turun. Karena begini. Negara-negara pesaing kita, dengan komoditas yang sama, itu juga mengalami penurunan. Terutama Brasil, sekarang sudah drop sampai 18 persen. Kita baru 8 persen. Artinya, penjualan dia jauh lebih murah daripada kita. Harga jadi tertekan ke bawah. Jadi penjualan malah menurun,” kata Sumita, Rabu, 5 September 2018.
Menurut Sumita, seharusnya menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpengaruh baik terhadap para eksportir, khususnya di Lampung.
“Tetapi dengan perang dagang seperti sekarang ini, semua pengusaha atau trader di luar itu juga mengambil posisi. Secukupnya saja. Jadi sedikit melambat sebetulnya. Siapa sih orang yang mau ambil risiko dengan kondisi seperti sekarang ini. Apalagi komoditas pertanian ini kan cukup melimpah,” jelas Sumita.
Baca: Jokowi Komentari Rupiah yang Hampir Sentuh Rp 15.000 per Dolar AS
Baca: Nilai Rupiah Anjlok, Kondisi Ekonomi 2018 Lebih Buruk Dibanding 1998? Jokowi Beri Penjelasan
Ke depan, lanjut Sumita, Lampung harus bisa lebih kompetitif dengan negara pesaing.
Petani lada di Bumi Ruwa Jurai, terus Sumita, harus kerja keras.
“Produksinya juga harus benar. Produktivitasnya jangan rendah lagi. Jangan karena (harga) turun, kita ikut turun, ya habis jadinya,” papar Sumita.
Sumita berharap ada kestabilan harga.
Ia memastikan, jika harga tidak stabil, dan dampak penurunan terhadap negara pesaing juga turun lebih jauh dari Indonesia, maka penjualan dari Indonesia, khususnya Lampung, akan ikut turun.
“Sekarang ini masalahnya adalah dunia. Artinya, tidak hanya Indonesia, tetapi negara-negara pesaing juga kena imbasnya. Karena fondasi mereka lemah, sehingga jatuhnya jauh dari kita. Kalau mereka jual dengan harga mata uang mereka, jelas kita akan kalah jauh. Itu yang mengakibatkan harga komoditas kita tidak naik, walaupun kurs (dolar) naik,” ucap Sumita. (*)
---> Jangan lupa subscribe Channel YouTube Tribun Lampung News Video
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ilustrasi-dolar-dan-rupiah_20170927_103249.jpg)