Berita Komunitas
JPP Tolak GAK Jadi Objek Wisata
Pihaknya juga mendorong agar Krakatau tetap menjadi cagar alam laut, bukan lokasi wisata. Sehingga tetap terjaga kelestariannya.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribun Lampung Sulis Setia Markhamah
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Salah satu anggota JPP Yuli Nugraheni yang juga penulis menulis buku tentang Krakatau bersama anaknya.
Buku ini rencananya dikemas dalam bentuk yang menarik agar mudah dipahami oleh anak-anak. "Karena sasaran pembacanya adalah anak-anak," kata Koordinator JPP Rindavita.
Baca: Jaringan Perempuan Padmarini Miniatur Aktivis Perempuan
Kegiatan pertama yang dilakukan JPP Oktober 2016 lalu juga mengangkat soal Krakatau di Aula Dinas Kesehatan Lampung. Mengundang satu-satunya akademisi yakni Profesor Tukirin yang melakukan penelitian di Gunung Krakatau.
Yang hadir lebih dari 300 peserta baik itu akademisi, pelajar, mahasiswa, lembaga sosial, dan lainnya.
Baca: Jaringan Perempuan Padmarini Kawal Isu Ibu Anak Hingga Lingkungan
JPP saat itu bekerjasama dengan lembaga yang sering membuat video terkait permasalahan sosial lingkungan.
"Jadi kita putar film The King of Krakatau. Terus mengajak masyarakat untuk lebih peka dan peduli terhadap lingkungan. Kita melihat Krakatau ini terancam sekaligus ancaman," beber Rinda.
Krakatau ini sesuatu yang terancam karena banyak orang datang berwisata tetapi buang-buang sampai sembarangan. Sementara kondisi Krakatau yang masih aktif juga bisa membahayakan pengunjung.
Pihaknya juga mendorong agar Krakatau tetap menjadi cagar alam laut, bukan lokasi wisata. Sehingga tetap terjaga kelestariannya.
"Orang yang mau berkunjung ke sana adalah untuk penelitian. Prosesnya juga harus mendapatkan izin yang tidak mudah. Jadi nggak sembarangan," tukasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/jpp-bersama-prof-tukirin-kanan_20180926_094633.jpg)