Nasib 4 Keluarga DN Aidit Setelah Tragedi G30S
G30S/PKI merupakan peristiwa yang terjadi pada malam tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965, yang tak lepas dari sosok DN Aidit.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Peringatan peristiwa G30S/PKI berlangsung setiap tanggal 30 September.
G30S/PKI merupakan peristiwa yang terjadi pada malam tanggal 30 September 1965 sampai 1 Oktober 1965.
Peristiwa itu tak lepas dari sosok Ketua Umum PKI, DN Aidit.
DN Aidit memilih meninggalkan tanah kelahirannya pada 1940.
Ia merantau ke Jakarta.
DN Aidit sempat mendirikan perpustakaan Antara di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat.
Kemudian, Aidit mempelajari politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda.
Berawal dari sana, Aidit mulai berkenalan dengan tokoh politik Indonesia, antara lain Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mohammad Yamin.
Baca: Gatot Nurmantyo Tantang KSAD, Komentar Panglima TNI Soal Nonton Bareng Film G30S/PKI
Pada 1954, Aidit terpilih menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI pada Kongres PKI.
Selanjutnya, Aidit terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PKI.
Sebagai pemimpin PKI, DN Aidit membuat partai tersebut menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan China.
Pada zaman itu, PKI mempunyai program untuk segala lapisan masyarakat, semisal Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), dan Lekra.
Pada 30 September 1965, peristiwa penculikan dan pembunuhan terjadi, yang dilakukan suatu kelompok militer pimpinan Letkol Untung.
Dikenal sebagai G30S, peristiwa tersebut menuduh PKI di balik kejadian itu, dan DN Aidit sebagai dalangnya.
Akibatnya, Aidit diburu oleh tentara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/nasib-keluarga-dn-aidit_20180929_202821.jpg)