Penerapan Palang Pintu Otomatis di Unila - Mahasiswa Sebut Bikin Ribet, Dosen Nilai Belum Siap

Kebijakan yang diterapkan kampus dengan menempatkan palang pintu otomatis dan diharuskan menggunakan kartu khusus tersebut membuat kesulitan mahasiswa

Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung/Eka
Palang pintu otomatis di Kampus Unila. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Eka Ahmad Sholichin

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sebanyak sembilan satpam Unila berjaga di dua titik palang pintu otomatis masuk kendaraan di wilayah kampus Universitas Lampung (Unila), Kamis, 3 Januari 2018.

Palang pintu otomatis sudah mulai diberlakukan sejak Rabu (2/12) kemarin.

Rinciannya, lima satpam berjaga di depan gedung Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan empat satpam ditempatkan di dekat bundaran air mancur Unila.

Berdasarkan pantauan, banyak pengendara dari luar bahkan mahasiswa sendiri yang belum mengetahui ketentuan pemberlakuan palang pintu otomatis yang sudah mulai diberlakukan sejak Rabu (2/1) kemarin.

Palang pintu hanya bisa dilewati pengendara dari sivitas Unila mulai dari dosen, karyawan, dan juga mahasiswa yang sudah memegang kartu khusus palang pintu.

Sementara, bagi pengendara yang tidak memiliki kartu parkir khusus maka tidak diizinkan untuk melintasi palang pintu otomatis yang dialokasikan di dua titik yaitu depan gedung TIK dan di dekat bundaran air mancur Unila.

Alhasil pengendara yang mau masuk ke Unila yang akan melintasi gedung TIK misal menuju ke kampung baru yang tidak memiliki kartu parkir khusus maka disarankan bisa berputar balik lewat bypass langsung tembus kampung baru atau memutar lewat Rajabasa.

Kalapas, Napi, Oknum Polisi, dan Sipir Berkomplot Edarkan Narkoba di Lampung, 3 Sudah Vonis Penjara

Namun jika pengendara dari arah lampu merah Unila (Jl. ZA. Pagar Alam) menuju Kampung Baru maka tidak menjadi soal karena masih bisa melewati jalur Unila tanpa harus melewati titik palang pintu otomatis.

Banyak pengendara yang awalnya akan masuk ke Unila terutama dari titik palang pintu otomatis (depan gedung TIK), akhirnya harus menelan kekecewaan berputar balik lantaran belum mengetahui informasi pemberlakuan palang pintu otomatis tersebut.

Masimarino Alfalah, mahasiswa FKIP Unila jurusan Sejarah menyatakan bahwa kebijakan yang diterapkan kampus dengan menempatkan palang pintu otomatis dan diharuskan menggunakan kartu khusus tersebut membuat kesulitan mahasiswa.

"Ya ribet jadinya. Apalagi buat saya mahasiswa tingkat akhir yang kerap bolak balik ke perpustakaan, rektorat, jurusan, prodi harus dengan seperti ini. Kalau kita diminta naik bus kampus kan jalan kaki sehingga menghambat," keluhnya.

GAK Masih Aktif, Warga Kalianda Sempat Khawatir Tercium Aroma Belerang pada Kamis Malam

Menurutnya, sebaiknya kebijakan seperti ini diberlakukan untuk mahasiswa tahun ajaran baru tapi kalau untuk mahasiswa semester lima ke atas diberikan dispensasi.

"Jadi kalau yang mahasiswa tingkat akhir gak usah diberlakukan kayak gini kasihan soalnya," tuturnya.

Sementara Dosen FKIP Sejarah Unila, Maskun menanggapi positif dengan diberlakukannya kebijakan pemberlakuan palang pintu otomatis tersebut jika tujuannya adalah untuk keamanan.

Namun ia mengaku mengalami sedikit kesulitan saat ini karena harus mengurus kartu khusus untuk melewati palang pintu otomatis yang sudah terpasang di dua titik tersebut.

"Ya kan harus punya kartunya mas. Saya kalau yang di fakultas sudah punya tapi kalau akses yang lain masih harus disinkronisasikan dulu. Maka kami juga masih butuh bantuan-bantuan satpam yang menjaga itu. Memang awalnya harus penyesuaian dulu karena ini kan hal baru," tukasnya.

Dosen Teknik Unila Sasana Putra menyampaikan bahwa pemberlakuan kebijakan baru tersebut pada prinsipnya bagus namun dilihat belum siap.

Politikus Asal Lampung Terseret Kasus Hoaks Surat Suara Tercoblos di Medsos

"Bisa dilihat dari sisi sosialisasi. Lalu, titik lokasi yang di depan bundaran itu kan kalau sudah masuk kesulitan keluar lagi karena sudah ada antrean di belakangnya karena gak punya kartu khusus," ungkapnya.

Namun jika tujuannya untuk pengamanan kampus tentunya menanggapi positif dengan kebijakan baru tersebut.

"Tapi memang perlu adaptasi dulu supaya semua kalangan bisa menyesuaikan dengan kebijakan baru itu," tandasnya.

Pengendara yang belum memiliki kartu khusus, Deki merasa kaget dengan kebijakan baru yang diterapkan tersebut ketika melintasi kawasan Unila.

"Kaget juga saya. Biasanya gak pakai kartu bisa lewat," tutur pedagang free land yang terkadang lewat jalur Unila.

Menurutnya, ia terkadang melintasi jalur Unila ketika akan menuju bypass untuk mengantarkan barang ke toko-toko. "Kadang-kadang masuk lewat jalur kampus Unila ke bypas karena jaraknya lebih dekat," paparnya.

Namun ia menanggapi positif dengan kebijakan yang diberlakukan tersebut karena untuk kepentingan kampus menjaga keamanan. "Ya bagus sih soalnya biar aman, tapi emang agak repot buat kami karena harus berputar lewat Rajabasa," pungkasnya. (eka)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved