Janda Kerap Berhubungan dengan Pacar-pacarnya, Kini Menyesal: Panas Perih, Campur-campur Rasanya

Janda Kerap Berhubungan dengan Pacar-pacarnya, Kini Menyesal: Panas Perih, Campur-campur Rasanya

Mirror
ILUSTRASI - Janda Kerap Berhubungan dengan Pacar-pacarnya, Kini Menyesal: Panas Perih, Campur-campur Rasanya 

"Hal ini bisa diasumsikan bahwa minat masyarakat Bali untuk tes HIV sangatlah tinggi. Jika diuraikan lebih jauh, maka temuan kasus sekitar 2-4 orang per hari baik tes secara sukarela maupun tes wajib," imbuhnya.

Hal itu disampaikannya dalam acara Diskusi Publik Mengintensifkan Upaya Mendapatkan Hak Asasi bagi Pengidap HIV/AIDS (ODHA) dalam rangka Peringatan Malam Perenungan AIDS Nusantara (MRAN) di ruang rapat Praja Sabha, Denpasar, Kamis (23/5/2019).

Penglingsir Puri Ubud ini mengajak semua pihak bersinergi mengurangi bahkan menghentikan masalah HIV/AIDS ini.

“Mulai dari pemerintah, masyarakat, LSM hingga akademisi kita bahu-membahu agar pertumbuhan kasus bisa kita hentikan,” imbuhnya.

Mengenai upaya pemerintah merespons masalah tersebut, Cok Ace ingin memperbanyak pusat-pusat layanan tes gratis di berbagai daerah di Bali.

Demikian pula terapi HIV dengan obat Anti Retroviral (ARV) sudah disiapkan sebagai tindak lanjut pascates yang dilakukan.

Semakin cepat diketahui status HIV seseorang maka semakin cepat pula orang tersebut mendapatkan pengobatan ARV guna meningkatkan kualitas hidup mereka sebagaimana layaknya kondisi orang normal tanpa HIV.

Merujuk kembali pada data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Cok Ace menambahkan ternyata puncak kasus terjadi di tahun 2015 yaitu sebanyak 2.529 yang terus mengalami penurunan menjadi 2.174 di tahun 2018.

Hal itu sejalan dengan laporan dari Yayasan Kerti Praja yang menyebutkan bahwa telah terjadi penurunan kasus sebesar 9,3% .

“Kita boleh berbangga bahwa kita sudah bekerja pada track yang benar dan ini merupakan prestasi yang patut saya hargai. Satu hal yang tidak boleh kita abaikan dalam penanggulangan AIDS ini adalah menciptakan lingkungan yang kondusif agar pelaksanaan penanggulangan HIV/AIDS dapat berjalan secara harmonis dan produktif,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Luh Putu Putri Suastini mengajak masyarakat untuk berhenti memberikan stigma negatif dan diskriminatif terhadap Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA).

Sebab, menurutnya, mereka juga mempunyai hak yang sama dengan masyarakat lainnya sebagai warga negara.

“Para ODHA bukanlah monster yang harus kita takuti, mereka hanya sakit karena kekebalan tubuh mereka hilang. Jadi bagaimana caranya agar masyarakat bisa membuka diri dengan mereka, dan mereka juga bisa terbuka mengatakan jika mereka sakit AIDS seperti penderita penyakit lainnya bisa bilang, saya lho kena kanker, dan lainnya,” jelasnya.

Istri Gubernur Bali Wayan Koster ini mengandaikan, dalam mencari masalah, sama seperti pohon, jika daunnya kuning dan batangnya layu harus dicari akarnya untuk menghijaukan pohon itu kembali.

“Nah sama seperti kasus ini, jangan para ODHA-nya yang dipermasalahkan, tapi bagaimana kesadaran dan sikap kita menjauhi perilaku yang berpotensi kena penyakit itu,” imbuhnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved