Tak Tahan Dengar Tangisan Bayi 9 Bulan, Pria Ini Bunuh 3 Balita yang Dititipkan Padanya Secara Sadis

Mengerikan, meski memiliki perasaan manusia bisa saja tak ada bedanya dengan monster.

Tak Tahan Dengar Tangisan Bayi 9 Bulan, Pria Ini Bunuh 3 Balita yang Dititipkan Padanya Secara Sadis
PETER CORNS
Elsie Urry dan ketiga anaknya 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Mengerikan, meski memiliki perasaan manusia bisa saja tak ada bedanya dengan monster.

Manusia bisa diliputi hal-hal negatif dan berbuat kejahatan dengan mudahnya.

Seperti yang dilakukan oleh 'monster' ini. Dengan kejamnya, ia membunuh tiga bayi dan menusuk jasadnya ke pagar.

Dilansir dari Daily Mail (11/6/2019), kejadian tragis itu terjadi 46 tahun silam.

Tiga anak dibunuh, tanpa alasan lain selain untuk membungkam tangisan bayi berusia sembilan bulan.

Kemudian, tubuh kecil mereka patah, dan mereka tertusuk di pagar taman karena tindakan kebiadaban seorang pria.

Tanggalnya adalah Jumat, 13 April 1973. Seorang ibu bernama Elsie Urry, yang kala itu berusia 23 tahun bekerja sebagai pelayan bar di Worcester.

Suaminya, Clive Ralph, pergi untuk menjemputnya dari tempat kerjanya dan meninggalkan anak-anak mereka dalam pengasuhan David McGreavy, seorang teman keluarga dan seorang yang menumpang/menyewa tinggal di rumah mereka.

Pembunuh Sadis Ibu Kandung Ini Ungkap Pengakuan yang Mengejutkan

Anak-anak mengenalnya dengan baik, dan telah bermain dengannya dengan gembira di masa lalu.

Pasangan itu mengira mereka tidak punya alasan untuk mengkhawatirkan anak-anak mereka di bawah asuhan McGreavy.

Namun, ketika mereka kembali ke rumah mereka di Gillam Street, Worcester, mereka menemukan bahwa polisi sedang menunggu mereka.

Seorang petugas mengantar mereka ke kantor polisi setempat dan menyampaikan kabar bahwa Paul (4), Dawn (2) dan bayi Samantha (9 bulan) semuanya telah tewas.

David McGreavy saat dibawa ke pengadilan

David McGreavy saat dibawa ke pengadilan

Pasangan itu diberitahu bahwa McGreavy mengakui telah membunuh mereka, tetapi polisi masih mencari mayat mereka.

Malamnya, mayat-mayat itu secara mengerikan ditemukan dalam barisan, tertusuk di pagar taman berduri tetangga.

McGreavy yang saat itu 21 tahun, merupakan seorang yang telah diusir dari Angkatan Laut Kerajaan, dilaporkan mengatakan kepada polisi bahwa Samantha menginginkan botolnya dan tidak berhenti menangis.

“Semuanya ada di rumah. Pada Paul saya menggunakan kawat. Saya akan mengubur (Paul) tetapi saya tidak bisa ... Saya pergi ke luar dan meletakkannya di pagar. Yang bisa saya dengar hanyalah anak-anak, anak-anak, anak-anak," akunya.

Paul dicekik, Dawn mengalami luka tenggorokan dan Samantha meninggal karena patah pada tengkorak.

Pelaku dan Korban Pembunuhan di Lampung Ternyata Terlibat Asmara Sesama Jenis 

Masih belum jelas apakah ada lebih banyak psikolog penjara yang mewawancarai McGreavy untuk mengeksplorasi kemungkinan bahwa mungkin ada 'motif seksual'.

David McGreavy kemudian dipenjara pada 1973. Kini setelah 46 tahun dipenjara, ia telah dibebaskan.

Polisi berdiri di depan rumah keluarga korban di <a href='https://lampung.tribunnews.com/tag/worcester' title='Worcester'>Worcester</a> pada 1973.

Polisi berdiri di depan rumah keluarga korban di Worcester pada 1973.

Sementara setelah dibebaskan, ia akan tetap berada dalam pengawasan NPS (National Probation Service). Mc Greavy akan diharuskan memakai tag elektronik menggunakan teknologi pelacakan satelit.

Meski begitu, keluarga korban sebenarnya tak setuju dengan keputusan itu. Elsie mengatakan semua orang pasti merasa stres dengan pembebasan McGreavy.

Sebelumnya pada 2013, Elsie, yang telah pindah dari Worcester, mengatakan bahwa dia telah melewati '40 tahun neraka'.

"Jika dia dibebaskan, aku akan menunggu di luar dengan pistol," katanya setelah petisi Hak Asasi Manusia McGreavy dibatalkan.

"Hidup harus berarti hidup dan dia seharusnya tidak boleh berjalan bebas. Dia turun ringan dengan hukuman seumur hidup, dia seharusnya digantung," kata Elsie dengan jelas meminta agar McGreavy dihukum mati.

David McGreavy (kiri) dan Elsie Urry (kanan)

David McGreavy (kiri) dan Elsie Urry (kanan)

Artis Ini Jadi Saksi Kasus Pembunuhan Berantai, Korban Ternyata Teman Dekatnya

“Aku memikirkan apa yang dia lakukan setiap menit setiap hari karena dia mengambil hidupku. Saya tidak bisa pergi ke pesta keluarga lagi, saya tidak bisa merayakan apa pun. Tempatkan diri Anda pada posisi saya, bagaimana perasaan Anda?"

"Aku tidak bisa dan tidak akan pernah pindah. Karena apa yang dia lakukan pada ketiga anak saya dan saya, dia layak mendapatkan perlakuan yang sama dengan yang mereka dapatkan, kematian."

Sementara kini pihak berwenang tetap membebaskan McGreavy setelah memberikannya hukuman kurung 46 tahun setelah sebelumnya terjadi beberapa perubahan keputusan mengenai berapa lama McGreavy harus dipenjara. 

Elsie sendiri mengatakan sudah cukup bisa menerima dan sedikit merasa tenang karena pengajuannya mengenai zona pelacakan dan pengecualian yang diberlakukan pada McGreavy dikabulkan oleh pihak berwenang. (*)

Artikel ini sudah tayang di IntisariOnline.com dengan judul : Tak Tahan Dengar Tangisan, 'Monster' Ini Bunuh Tiga Anak dan Menaruh Jasad Ketiganya di Pagar Penuh Tanaman Berduri

Editor: Teguh Prasetyo
Sumber: Intisari Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved