Bacaan Niat Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah serta Keutamaannya

Bagi kamu yang hendak menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah, berikut niat puasa Tarwiyah dan Arafah.

tribunlampung.co.id/dodi kurniawan
Ilustrasi. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Bagi kamu yang hendak menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah, berikut niat puasa Tarwiyah dan Arafah.

Puasa sunah Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan bagi umat Muslim.

Salah satu tujuannya agar umat Muslim dapat turut merasakan nikmatnya sebagaimana dirasakan para jemaah haji.

Namun bagi jemaah haji yang tidak mampu puasa, maka dengan sendirinya haram hukumnya untuk berpuasa di hari Arafah 9 Dzulhijjah.

Di Arafah, umat Muslim memperbanyak zikir dan shalawat, serta salat dan mengaji di hari yang mulia tersebut.

Sebab, pahalanya amat besar, yakni 700 kali lipat dibandingkan dengan hari lain di bulan lain.

Adapun yang dimaksud dengan puasa Arafah adalah (Mengetahui) puasa yang dilaksanakan pada hari Arafah, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah yaitu hari pada saat jemaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah.

Dan, puasa Tarwiyah adalah (Merenung atau berpikir) puasa, yang dilaksanakan pada hari Tarwiyah, yakni 8 Dzulhijjah, atau hari sebelum hari wukuf.

Niat Puasa Tarwiyah Jelang Idul Adha dalam Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahannya

Keutamaan Puasa Tarwiyah

Puasa sunah Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Arafah (9 Dzulhijjah) bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, memiliki beberapa keutamaan berdasarkan beberapa hadis Nabi Muhammad SAW.

1. Barang siapa yang menjalankan puasa Tarwiyah akan dihapus dosa satu tahun yang lalu yang telah terlewati.

2. Sedangkan, orang yang berpuasa di hari Arafah akan dihapus dosa dua tahun (1 tahun yang lalu dan 1 tahun yang akan datang)

3. Dan, orang yang melaksanakan dua puasa ini akan dianugrahi oleh Allah SWT dengan 10 macam kemuliaan, yaitu:

1. Allah akan memberi keberkahan pada kehidupannya.

2. Allah akan menambah harta.

3. Allah akan menjamin kehidupan rumah tangganya.

4. Allah akan membersihkan dirinya dari segala dosa dan kesalahan yang telah lalu.

5. Allah akan melipatgandakan amal dan ibadahnya.

Panduan Video Niat Puasa Tarwiyah dan Niat Puasa Arafah Sebelum Iduladha

6. Allah akan memudahkan kematiannya.

7. Allah akan menerangi kuburnya selama di alam Barzah.

8. Allah akan memberatkan timbangan amal baiknya di Padang Mahsyar.

9. Allah akan menyelamatkannya dari kejatuhan kedudukan di dunia ini.

10. Allah akan menaikkan martabatnya di sisi Allah SWT.

Alangkah banyak keberkahan dan kebahagiaan yang Allah berikan bagi orang yang menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah.

Semoga, kita termasuk di dalamnya.

Lafaz Niat

Berikut, niat puasa Tarwiyah.

ﻧﻮﻳﺖ ﺻﻮﻡ ﺗﺮﻭﻳﻪ ﺳﻨﺔ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH

“Saya niat puasa Tarwiyah, sunah karena Allah ta’ala.”

Berikut, niat puasa Arafah.

ﻧﻮﻳﺖ ﺻﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺳﻨﺔ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.

NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH

“Saya niat puasa Arofah, sunnah karena Allah ta’ala.”

Keutamaan Puasa Arafah

Keutamaan puasa Arafah sungguh istimewa.

Keutamaan itu, yakni dihapuskan segala dosa selama satu tahun yang lalu, dan setahun yang akan datang dijaga Allah untuk tidak berbuat dosa atau maksiat.

Hal itu sebagaimana tertuang dalam hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah al-Anshari RA.

"Dan Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari Arafah. Maka, baginda bersabda, 'Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang'.” (HR Imam Muslim).

Selain itu, umat Muslim yang berpuasa Arafah akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda pada hari tersebut.

Niat Puasa Tarwiyah dan Niat Puasa Arafah, Dilengkapi Panduan Video

Mau menunaikan puasa Arafah dan belum tahu niatnya?

Dalam mazhab Syafi’i, lafal niat puasa Arafah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ لِلَّهِ تَعَالَى

(Nawaitu shouma ‘arofata lillaahi ta’aalaa)

Tejemahannya: saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.

Tonton video, bacaan niat puasa Tarwiyah dan niat puasa Arafah di bawah ini.

Tata Cara Salat Idul Adha

Yuk simak, tata cara salat Idul Adha dan niat salat Idul Adha dalam bahasa Arab dan terjemahannya.

Pada kalender Islam atau hijriah, Idul Adha jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Saat itu, seluruh umat muslim yang menunaikan ibadah haji di Arab Saudi, sedang bergerak dari Muzdalifah menuju Mina, untuk melontar jumrah.

Umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, sangat dianjurkan untuk melaksanakan salat Ied, serta menyembelih hewan kurban.

Hukum salat Idul Adha adalah sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan.

Meski hukumnya bukan wajib, salat Ied lebih baik dilakukan bagi laki-laki ataupun perempuan.

Pelaksanaan salat Idul Adha sedikit berbeda dengan salat wajib lima waktu.

Satu di antaranya, pelaksanaan salat Idul Adha tidak didahului azan dan ikamah.

Salat Idul Adha ataupun Idul Fitri dilaksanakan setelah matahari terbit hingga masuk waktu dhuhur.

Namun, pelaksanaan salat Idul Adha dianjurkan untuk mengawalkan waktu.

Hal tersebut untuk memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat, yang ingin menyembelih hewan kurban.

Salat Idul Adha dilaksanakan dua rakaat secara berjemaah, dan terdapat khutbah setelahnya.

Namun bila tak bisa berjemaah karena terlambat atau halangan lain, salat Idul Adha dapat dilaksanakan di rumah, daripada tidak sama sekali.

Berikut, niat salat Idul Adha sebagaimana dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribuntimur.com.

أُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) للهِ تَعَــــــــالَى

Ushalli rak‘ataini sunnata-li idil adl-ha (ma’muman/imaman) lillahi ta‘ala

Artinya, “Aku niat melaksanakan salat sunnah Idul Adha (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta‘ala.”

Selain itu, niat salat Idul Adha juga bisa dibaca sebagai berikut:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) للهِ تَعَالَى

Ushalli sunnata-li idil adl-ha rak‘ataini mustaqbilal qiblati (ma’muman/imaman) lillahi ta‘ala

Artinya, “Aku niat melaksanakan salat sunnah Idul Adha dua rakaat, menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta‘ala.”

Lafal niat dibaca menjelang takbiratul ihram.

Lafal niat salat Idul Adha juga bisa menggunakan bahasa lokal yang melakukan salat.

Sebagai catatan, kedudukan lafal niat hanyalah sekunder alias membantu orang yang hendak melaksanakan salat agar lebih mantap dan fokus pada niatnya.

Sementara, hal yang primer tetaplah getaran batin tentang salat Idul Adha itu sendiri.

Imam Ramli mengatakan:

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

“Disunnahkan melafalkan niat menjelang takbir (salat) agar lisan dapat membantu (kekhusyukan) hati, agar terhindar dari gangguan hati dank arena menghindar dari perbedaan pendapat yang mewajibkan melafalkan niat”. (Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

Niat adalah sesuatu yang sangat pokok dalam pelaksanaan ibadah.

Tidak sah ibadah seseorang yang tidak disertai dengan niat.

Niat terletak di dalam hati, yang menandakan adanya kesengajaan dalam menunaikan ibadah tertentu.

Menurut Madzhab Syafi‘î, niat berarti sengaja melakukan sesuatu yang dilaksanakan berbarengan dengan aktivitas pertama saat salat.

Artinya, dalam konteks salat Idul Adha, jika melafalkan niat dilakukan sebelum takbiratul ihram maka niatnya itu sendiri dilaksanakan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram.

Tata cara salat Idul Adha

Waktu salat Ied dimulai sejak matahari terbit hingga masuk waktu Dhuhur.

Salat Idul Adha memang dianjurkan dilakukan di awal waktu, dibandingkan salat Idul Fitri yang dianjurkan diperlambat untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang belum menunaikan membayar zakat fitrah.

Salat Idul Adha dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah, dan terdapat khutbah setelahnya.

Bila ketinggalan secara jamaah, boleh dilakukan secara sendiri atau munfarid.

Berikut, tata cara salat Idul Adha.

Pertama, niat salat Ied.

Niat dalam hati untuk melaksanakan salat Idul Adha, tanpa harus melafadzkannya.

Kedua, takbirul ihram seperti salat pada umumnya.

اللَّهُ أَكْبَرُ

(Allaahu akbar) Artinya: Allah Maha Besar

Kemudian, membaca doa iftitah. 

وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا (مُسْلِمًا) وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّى وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى جَمِيعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Artinya:

Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam keadaan tunduk (dan menyerahkan diri), dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Dan dengan yang demikian itu lah aku diperintahkan. Dan aku termasuk orang yang berserah diri.

Ya Allah engkau adalah penguasa. Tiada Tuhan kecuali Engkau Semata. Ya Allah Engkau adalah Tuhanku sedangkan aku adalah hambaMu. Aku telah berbuat aniaya terhadap diriku dan aku telah mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosa-dosaku. Tiada yang dapat mengampuni dosa-dosaku melainkan Engkau.

Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik. Tiada yang dapat membimbing kepada akhlak yang terbaik melainkan Engkau. Palingkanlah aku dari akhlak yang buruk. Tiada yang dapat memalingkan aku dari akhlak yang buruk melainkan Engkau. Aku penuhi panggilanmu Ya Allah. Aku patuhi perintahMu. Seluruh kebaikan berada dalam tanganmu sedangkan kejelekan apapun tidaklah pantas untuk dinisbatkan kepadaMu. Aku hanya dapat hidup karenaMu dan akan kembali kepadaMu. Maha berkah Engkau Yang Maha Tinggi, aku mohon ampunan dan bertaubat kepadaMu.

Kemudian, setelah membaca doa iftitah disunnahkan takbir lagi hingga tujuh kali untuk rakaat pertama.

Ini bacaan di antara takbir sebelum membaca surah Al-Fatihah.

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar. 

Artinya: Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya. Tiada tuhan kecuali Allah, Allah Mahabesar.

Ketiga, membaca surah Al-Fatihah.

Setelah itu dianjurkan membaca Surat Al-Ghasyiyah dan berlanjut rukuk, sudut, duduk di antara dua sujud dan berdiri masuk ke rakaat kedua.

Keempat, takbir pada rakaat kedua.

Kembali takbir sebanyak lima kali dengan bacaan sama seperti rakaat pertama.

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar. 

Artinya: Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya. Tiada tuhan kecuali Allah, Allah Mahabesar.

Berlanjut baca surat Al-Fatihah, surat pendek, rukuk, sudut, duduk di antara dua sujud dan duduk tasyahud akhir.

Kelima, setelah salam tanda salat Id rampung, jamaah dianjurkan mendengarkan khutbah hingga selesai. Jangan terburu-buru pulang.

Pada khutbah pertama, khatib disunnahkan memulainya dengan takbir sembilan kali sedangkan khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali.

السنة أن يخطب الإمام في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس

“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Niat Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah, Dua Puasa Sunah Sebelum Iduladha.

Demikian, bacaan niat puasa Tarwiyah dan niat puasa Arafah serta tata cara salat Idul Adha dan niat salat Idul Adha.

Sumber: Tribun Timur
Tags
wukuf
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved