UM Metro

Mahasiswa PLP FKIP UM Metro Gagas Desa Wisata Bahasa

Menggagas Desa Wisata Bahasa, salah satu kelompok mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Metro ikuti pembekalan.

Mahasiswa PLP FKIP UM Metro Gagas Desa Wisata Bahasa
Ist
Mahasiswa PLP FKIP UM Metro Gagas Desa Wisata Bahasa 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID – Menggagas Desa Wisata Bahasa, salah satu kelompok mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Metro ikuti pembekalan. Acara digelar di ruang 1.6 Gd. E, kampus setempat.

Menurut Nadhea Zaintika kepada humas UM Metro, pembekalan Rabu (3/7) berkenaan dengan akan dilaksanakannya kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP), sekaligus pengabdian kepada masyarakat.

“Menyongsong terwujudnya Desa Wisata Bahasa di Banjarejo, Batanghari, Lampung Timur, salah satu kelompok mahasiswa FKIP ikuti pembekalan yang disampaikan oleh tiga dosen UM Metro, yakni Swaditya Rizky, M.Sc., Eva Faliyanti, M.Pd., dan Yasmika Baihaqi, M.Pd.BI.,” terangnya.

Hal senada turut diungkap Yasmika Baihaqi, M.Pd.BI., Desa Wisata Bahasa yang dicanangkan nantinya akan melibatkan mahasiswa, pemuda dan unsur masyarakat yang berada di lokasi pengabdian.

“Desa Wisata Bahasa akan sama-sama diwujudkan, kami melibatkan tiga unsur, bukan hanya mahasiswa saja tapi pemuda dan masyarakat juga turut andil dalam mewujudkan wisata bahasa ini,” jelas dosen Pendidikan Bahasa Inggris UM Metro itu.

Mahasiswa PLP FKIP UM Metro Gagas Desa Wisata Bahasa
Mahasiswa PLP FKIP UM Metro Gagas Desa Wisata Bahasa (Ist)

Belajar dari desa-desa wisata yang sudah ada dan cukup sukses menyedot perhatian masyarakat, Desa Wisata Bahasa yang sedang digagas ini harapannya mampu menyedot masyakarat untuk mendapatkan edukasi sekaligus wisata didalamnya.

Tentunya selain menitik beratkan pada edukasi bahasa Inggris, tidak menutup kemungkinan adanya edukasi bahasa lainnya.

 “Kenapa menggunakan kata wisata? bagaimana kemudian orang tertarik datang ke lokasi tersebut bukan karena bahasanya saja tapi juga bisa berwisata. Jadi wisata harus ditampilkan, seperti spot foto, spot bermain, kuliner dan lain-lainnya. Bahkan, kalau bisa nantinya ada bahasa lain selain bahasa Inggris.” tambah Yasmika Baihaqi,M.Pd.BI.

Penulis: Advertorial Tribun Lampung
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved