Ibadah Haji 2019
Antar Orangtuanya Berangkat Haji, Bocah SD Ini Enggan Lepaskan Pelukan Sang Ayah
Isak tangis tak terbendung dirasakan Fahdito Kaffa A (8) saat melepas sang ayah, Siswanto masuk ke Asrama Haji untuk melaksanakan pemberangkatan haji.
Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribun Lampung Eka Ahmad Sholichin
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Isak tangis tak terbendung dirasakan Fahdito Kaffa A (8) saat melepas sang ayah, Siswanto masuk ke Asrama Haji untuk melaksanakan pemberangkatan ibadah haji.
Siswanto merupakan salah satu calon jemaah haji dari kelompok terbang (kloter) 9 asal Bandar Lampung yang diberangkatkan pada Jumat (12/7/2019).
Sang anak tampak memeluk erat sang ayah dan enggan melepaskan pelukannya tersebut. Sang ayah pun tampak memeluk buah hatinya tersebut seraya menenangkannya.
"Anak yang kita tinggal ini kelas 2 SD. Yang pasti mungkin ini haji panggilan jadi kita orangtua harus kuat dan sabar karena ini kan suatu kewajiban bagi orang Islam," ungkapnya saat akan memasuki Asrama Haji.
"Dan memang untuk anak-anak berat karena ditinggalkan orangtuanya selama 42 hari. Paling tidak rasa haru yang pasti bisa mengawali perpisahan," lanjutnya yang berangkat didampingi dengan istri.
• 410 Calhaj Kloter 9 Asal Bandar Lampung Diberangkatkan ke Tanah Suci
Menurutnya, ia merupakan rombongan kloter 9 asal Bandar Lampung yang mendaftar haji pada tahun 2012.
Persiapannya yang pasti sudah lama dan sosialisasi dengan anak untuk pendekatan karena anak yang paling kecil umur 11 bulan ditinggal.
"Nanti anak-anak yang ditinggal akan bersama dengan orang-orang terdekat dengan embah dan pakdenya. Harapannya semua keluarga bisa segera haji dan keluarga yang ditinggal bisa sabar dan kuat," pungkasnya.
• BERITA FOTO - Isak Tangis Warnai Keberangkatan Calhaj Asal Bandar Lampung
Sementara keluarga dari jemaah haji Mansur (93), Anida Fitria menyatakan persiapan sudah menyiapkan obat-obatannya dan sudah ada pembimbing di sana karena memang umurnya sudah tua sehingga harus benar-benar diperhatikan.
"Datuk berangkat sendiri. Karena sebenarnya daftarnya tahun 2013 diprediksi berangkat 2020. Ternyata ada kuota tambahan makanya masuk 2019," tuturnya.
Ia mengharapkan datuk semoga dapat bertemu dengan orang-orang yang baik dan di sana sehat terus sampai kembali lagi.
"Ya kalau perasaannya sedih dan bahagia. Sedihnya berpisah sama Datuk kalau sedihnya kalau bahagianya bisa berangkat haji," tandasnya.
Jemaah haji lainnya yang sudah lanjut usia, Sahrudin Pohan (90) menuturkan melaksanan ibadah yang pertama dan berangkat sendiri.
"Gak ada yang menemani dari keluarga. Ya sendiri saja, tapi nanti ada petugas yang menemani," ungkapnya.
Sementara menantu dari Sahrudin, Komarudin mengharapkan agar orangtua yang berangkat haji selalu diberikan kesehatan dan keselamatan selama menunaikan ibadah haji.
"Dan juga doa kita semoga orangtua menjadi haji yang mabrur," tutupnya. (Tribunlampung.co.id/Eka Ahmad Sholichin)