Bentrok di Mesuji

Deretan Panjang Bentrok di Register 45 Mesuji Lampung, Sempat Beredar Video Pemenggalan

Terjadi bentrok berdarah di kawasan Register 45 Mesuji Lampung, Rabu (17/7/2019).

Deretan Panjang Bentrok di Register 45 Mesuji Lampung, Sempat Beredar Video Pemenggalan
ISTIMEWA
Sebanyak empat orang dilaporkan tewas dalam bentrokan berdarah antarkelompok di kawasan hutan tanaman industri Register 45, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, Rabu (17/7) sekitar pukul 12.00 WIB. Massa dari dua wilayah yang berada di perbatasan Provinsi Lampung dan Provinsi Sumatera Selatan saling bacok, bahkan ada yang menggunakan senjata api. 

Kawasan Register 45 diisi para pendatang yang disebut perambah. Di sisi lain, ada perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. 

Tahun 2011, kawasan Register 45 menjadi bahan perbincangan di level nasional. 

Ini dipicu laporan Lembaga Adat Megow Pak ke DPR RI. 

Megow Pak ketika itu datang didampingi Mayjen (Purn) TNI Saurip Kadi. 

Mereka melaporkan soal dugaan pembantaian terhadap 30 petani di Mesuji Lampung sejak pemerintahan SBY.

Laporannya disertai foto dan video pembantaian yang diduga dilakukan Pamswakarsa yang dibekingi perusahaan sawit asal Malaysia PT Silva Inhutani.

Ketua Tim Advokasi Lembaga Adat Magoupak, Bob Hasan menjelaskan mengenai kronologis adanya pembantaian dan kekerasan sadis di Lampung.

Awalnya, kata Bob terjadi saat sebuah perusahaan bernama PT. Silva Inhutani milik warga negara Malaysia bernama Benny Sutanto alias Abeng bermaksud melakukan perluasan lahan.

Hal itu dilakukan sejak tahun 2003, namun upaya PT. Silva Inhutani membuka lahan untuk menanam kelapa sawit dan karet selalu ditentang penduduk setempat.

"Penduduk yang tadinya menanam sengon, albasia dan lainnya menolak,"jelas Bob.

Akhirnya PT Silva Inhutani membentuk PAM Swakarsa yang juga dibekingi aparat kepolisian untuk mengusir penduduk.

Pascaadanya PAM Swakarsa terjadilah beberapa pembantaian sadis dari tahun 2009 hingga 2011.

Kurang lebih 30 orang sudah menjadi korban pembantaian sadis dengan cara ditembak, disembelih dan disayat-sayat.

Sementara ratusan orang mengalami luka-luka dan diantara mereka ada yang mengalami trauma dan stres berat.

"Kejadian terjadi di Mesuji dan Sodong di Lampung paling ujung juga Tulangbawang. Kalau penyembelihan itu terjadi awal Januari 2011,rincian korban 30 orang yang tewa sejak 2009-2011 dan ada beberapa orang stress karena melihat anggota keluarganya dibantai di hadapannya,"jelas Bob.

Saat agenda pertemuan, video pembantaian dipertontonkan, dalam video itu terlihat gambar adanya pembantaian sadis.

Beberapa korban dari masyarakat ada yang disembelih kepalanya kemudian tubuhnya digantung di tiang.

Video itu sempat diragukan kebenarannya karena diduga terjadi di Thailand. 

Perkelahian Kelompok Preman Rebutan Lahan Register 45

Dua kelompok asal Sungai Camba, Mesuji dan Sungai Ceper Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan bentrok pada Sabtu (20/6/2015) malam. Pada bentrok saat itu, seorang warga tewas.

Kepala Kepolisian Ressort Mesuji Ajun Komisaris Besar Trisna saat itu mengatakan, bentrok yang berujung tewasnya seorang warga itu dipicu perebutan lahan dengan lokasi Kampung Sido Rukun Register 45 Mesuji.

"Ini murni perkelahian antar dua kelompok preman dari Sungai Camba dan Sungai Ceper OKI. Persoalannya tidak lain, ya soal lahan itu," kata Trisna.

"Awalnya Mastori, kelompok Sungai Cambai berkelahi dengan kelompok Sungai Ceper. Karena tidak berimbang kemudian salah satu kelompok mengadu ke teman-temannya, kemudian malam hari menyerang tapi salah sasaran," tambah Trisna.

Pada penyerangan itu, pelaku yang diduga kelompok Sungai Ceper berjumlah lebih dari tujuh orang melakukan penembakan terhadap Warso sesuai salat tarawih.

Akibatnya Warso tewas dan Santo (38) mengalami luka berat. "Santo mengalami luka tembak di perut dan luka tusuk di punggung," ujar Tisna.

Bentrok antar dua kelompok warga yang merenggut satu korban tewas itu bermula ketika sekitar pukul 15.00 WIB, ada sekelompok orang yang belakangan diketahui warga Sungai Ceper, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, mendatangi salah satu warga perambah bernama Sayuti.

Kedatangan warga asal OKI disebut-sebut ingin menguasai lahan yang digarap Sayuti.

Namun Sayuti menolak menyerahkan lahan garapannya di kawasan hutan negara dan berusaha melawan.

Namun, karena kalah banyak, ia lalu menghubungi Matsori, ketua kelompok di kawasan Register 45 Mesuji.

Setibanya Matsori di tempat Sayuti, pertikaian meruncing hingga terjadi perkelahian yang menyebabkan Daman, warga kelompok Sungai Ceper, terluka bacokan di bagian perut.

Melihat salah satu anggotanya terluka dan merasa terdesak, kelompok ini meninggalkan lokasi.

Mendapati kelompok penyerang terluka, kelompok Sungai Buaya berjaga- jaga di pintu masuk menuju areal kelompok itu.

Mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, sebagian warga terutama anak-anak dan wanita kemudian diungsikan ke tempat yang aman.

Selepas salat tarawih, Susanto dan Warso serta beberapa orang lainnya berjaga-jaga di sekitar lokasi keributan.

Tak lama berselang, datang tujuh orang menghampiri mereka.

Merasa takut karena kalah jumlah, warga yang berjaga-jaga di kawasan register tadi langsung kabur menyelamatkan diri.

Saat itulah terdengar suara letupan senjata api.

Beberapa saat kemudian, terdengar kabar satu warga atas nama Susanto tewas tertembak.

Sementara satu warga lainnya atas nama Warso terluka parah terkena sabetan senjata tajam.

(Tribunlampung.co.id)

Penulis: Wakos Reza Gautama
Editor: wakos reza gautama
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved